English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label Ustadz Yusuf Mansur. Show all posts
Showing posts with label Ustadz Yusuf Mansur. Show all posts

Friday, October 25, 2013

MEMOAR UJE



Innaa lillaah… Tlh brpulang Ust Jefry al Buchori atau yang lebih dikenal dengan Uje pada Jumat, 26/04/2013 Pukul 2 Dini Hari.

Ustadz Jeffry Al Buchori yg prnah jd Pecandu, meninggal insyaaAllah istimewa.

Berikut memoarnya… Yg ditulisnya sendiri. Semoga bermanfaat.



 KECANDUAN KIAN PARAH

Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis.

Melihatku seperti itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata.

Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.

Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya.

Aku syok berat.

Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku.

Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.

Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu.

Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya.

Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris.

Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba.

Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.

Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan.

Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.

Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan.

HIDUP DI JALAN ALLAH

Pelan-pelan, aku kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun 2000.

Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal karena kanker otak, memintaku menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam di Singapura.

Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan.

Selanjutnya, kakakku memintaku untuk mulai menjadi ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian kupilih. Betapa indah hidup di jalan Allah.

Aku mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat.

Namun, perjuanganku tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar.

Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve. Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga punya hak untuk mendapatkan dakwah.

Kebahagiaan kami bertambah ketika tahun 2000 itu, lahir anak pertama kami, Adiba Kanza Az-Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Algifari juga hadir di tengah kami.

Mereka, juga istriku, adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan kami makin lengkap rasanya.

Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang lebih baik.

Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang baik untuk menjalani hidup.

Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik.

Catatan dari saya (Yusuf Mansur), bi-idznillaah …

Tambahan ini, adalah terjemahan bebas dari Qs. Al Furqoon, ayat 21-29. Baiknya, liat lengkap lsg di al Qur’an +terjemahannya, +surah Qoof, al Qomar, dan juz 29-30, u/ menghidupkan hati. Jgn lupa, doa, mendoakan, &minta doa):

“Dan orang2 yg tdk mengharapkan prtemuan dg Kami (di akhirat) brkata: Mengapa bukan para malaikat yg diturunkan kpd qt (Jgn ngirimkan Rasul). Atau mengapa qt tdk mlihat Tuhan qt? Sungguh, mrk tlh menyombongkan diri mrk&bnr2 tlh melampaui batas (dlm melakukan kesalahan, maksiat, dosa, kezaliman, kesalahan).

(Ingatlah) pd hr (ktika) mrk (bnr2) mlihat para malaikat (di hari akhir), pd hr itu tdk ada kbr gmbira bg orang2 yg brdosa & mrk brkata: hijram mahjuuraa (ucapan yg diucapkan orang Arab ktika menemui musuh yg tdk dpt lg dielakkan, atau ktika akan ditimpa bencana yg tdk dpt dihindari. Ungkapan ini jg brarti: semoga Allah mnghindarkan bahaya ini dari saya (tp udah prcuma, sbb diucapkannya di hr akhir).

Dan Kami akan prlihatkan sgl amal yg mrk krjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yg beterbangan.

Penghuni2 surga pd hr itu paling baik tmpt tinggalnya & paling indah tmpt istirahatnya.

Dan (ingatlah) pd hr (ketika) langit pecah, mengeluarkan kabut putih, &para malaikat diturunkan gelombang bergelombang (diturunkan besar2an).

Kerajaan yg mutlak pd hr itu adlh milik Allah Yg Mh Pengasih. Dan itulah hr yg sulit bg orang2 kafir.

Dan (ingatlah) pd hr (ketika) orang2 zalim menggigit 2 jarinya (menyesali perbuatannya) seraya brkata, “Wahai sekiranya (dulu) aku mengambil jln brsm Rasul.

Wahai celaka aku! Coba (dulu) aku tdk mnjadikan si Fulan itu teman akrabku (bs jg diartikan: syetan).

Sungguh, tmnku (atau bs dimaksudkan: syetan) tlh mnyesatkan aku dari pringatan (al Qur’an) ktika (al Qur’an) itu tlh dtg kpdku. Dan syetan mmng pengkhianat manusia.

(Qs. Al Furqoon: 21-29).

Sumber : http://yusufmansur.com

Thursday, October 3, 2013

SEDEKAH, DOA, DAN PAMRIH


Tentang sedekah, doa, dan pamrih, konsep saya memang beda.
Doa itu ibadah.
Seperti sedekah, di mana ia juga ibadah. Dan doa, bukan pamrih.
Niat, ga bisa disebut atau disamakan dengan doa.
Niat ya niat. Doa ya doa.
Dari sini semua bermula. Sekedar sharing juga, he he he.

Seseorang yang sedekah, kepengen anaknya sembuh, maka permintaan itu “setara/sama/serupa” dengan pengen kaya, pengen selamet, pengen nikah, pengen kerja, pengen tolak bala, pengen punya rumah, pengen terus sekolah, pengen masuk kampus favorit, pengen beasiswa di luar negeri, pengen punya anak, pengen punya modal, pengen punya modal, pengen ngembangin usaha, pengen punya usaha, pengen naik karir, dll.

Ketika “pengen”, maka itu udah masuk wilayah doa. Bukan niat lagi. Niatnya apa? Ya niatnya sedekah. Doanya? Doanya supaya bisa selamet dari fitnah, dll. Semua yg disebut: setara, sama, serupa. Sebab sama-sama disebut doa.

Orang shalat tahajjud. Niatnya?

Ya tentunya niat shalat tahajjud. Usholii sunnatat-tahajjud… Ketika dia shalat tahajjud supaya dinaikkan derajat, supaya jadi orang kaya, dilapangkan rizki, lunas hutang, sembuh dari penyakit, dll., maka ketika ada kalimat “supaya”, maka itu masuk wilayah doa. Sedekah, tanpa doa? 1 pahala. Sedekah + doa ? 2 pahala.

Bila beda di awal, maka beda pula serencengan, he he he. Saya, terhadap amal-amal lain, ya ga nyebut itu sbg pamrih. Bahkan ngarep di mata saya, adalah juga doa. Amal tinggi banget bila seseorang bisa ngarep sama Allah saja. Ga ngarep sama yang lain. Baru bermasalah, bila ngarepnya ke orang. Dia bantu orang lain, tapi ada maunya dari orang itu. Itu yg ga boleh. Atau riya (memperlihatkan amal kepada yg lain). Atau sum’ah (memperdengarkan kpd yg lain). Baca Qur’an, supaya dapat berkah. Boleh ga? Nah di sini, beda konsep. Baca Qur’an, niatnya apa? Ya pastinya ridho Allah.

Ya baca Qur’an aja. Terus minta hidup berkah, kekayaan berkah, anak2 berkah, rumah tangga berkah, pekerjaan berkah, usaha berkah, umur berkah, tenaga berkah.

Ketika nyebut “supaya”, itu udah masuk lagi2 ke wilayah doa. Jangankan sekedar berkah, atau katakanlah bahwa permintaan itu adalah “cuma” 1 permintaan. Dia minta sejuta permintaan, setelah baca Qur’an, atau bahkan sebelum baca Qur’an, atau bahkan nih, tanpa baca Qur’an, maka doa itu boleh banget2. Ngarep, boleh2 banget. Tidak ada satupun yang berhak melarang.

Jika doa sudah disebut niat, maka itulah awal pertentangan atau perbedaan.

Koq sedekah pengen kaya?

Koq birrul walidain pengen diangkat derajatnya, koq dhuha pengen dibuka rizki… Salah semua jadinya. Padahal, menurut konsep yg saya ikutin, kalo masuk “supaya”, itu masuk wilayah doa sebagaimana disebut di atas. Adalah rugi jika seseorang yg beramal saleh, lalu dia tidak meminta kepada Allah. Rugi banget.

Tapi saya sangat setuju, jika kemudian permintaan itu tidak hanya bersifat duniawi belaka. Tapi minta ridho Allah, minta surga, pengampunan, selamat dunia akhirat. Apapun, itu namanya “minta”. Yg bagus, beramal yang banyak, dan minta yang banyak.

Tulisan yg gini2, sdh jadi buku kompleto atas izin Allah. Judulnya: Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep?

Boleh juga ada yg mengatakan. Niatnya melaksanakan tugas kantor. Ngejar target. Supaya naik pangkat, supaya promosi. Supaya naik gaji. Itu kalau di dunia manusia kerja. Apalagi kalau niatnya ibadah, ya keren banget.

Seluruh motivasi dunia, dibenarkan, menurut saya, jika mencarinya “hanya” di Sisi-Nya, dan dg Cara-Cara-Nya. Dunia adalah milik Allah. Dekatkan semua yang pengen dunia, dengan Pemilik-Nya. Supaya mereka tidak meminta dunia dari selain-Nya, dengan cara-cara yang tidak diridhai juga oleh Pemilik-Nya.

Dan ajarkan mereka yang kepengen dunia, sebagaimana kita mengajarkan karyawan-karyawan kantor u/ bekerja terbaik, ngejar target, lalu dapet bonus terbaik juga.

Maka ajarkan yg pengen dunia, apa-apa yang diperintahkan Pemilik Dunia, spy dapat bonus banyak fii-haadzihil-hayaatid-duniaa… Ajarkan mereka yang pengen dunia, untuk meninggalkan seluruh larangan Pemilik Dunia. Spy dapet. Atau dapetnya dengan ridha-Nya.

Sbb banyak yg dapat, tp tidak dg Ridha-Nya. Dengan cara-cara yang benar, cara2 yg betul, yg hati2, tapi penuh semangat, sbb dunia memang milik Allah. Sementara itu, Allah pun mengajarkan, bahwa semua dunia ini, ga ada seberapanya dibanding apa-apa yang Allah akan berikan di negeri akhir. Ini dia… Ga seberapa dibanding dengan apa-apa yang Allah akan beri di negeri akhir.

Jadi, bukan ga boleh. Justru boleh banget. Malah dimotivasi, bahwa akan dapat yang lebih baik lagi nanti di akhirat. Ajarkan pula kehati2an, bahwa jangan sampe berhenti di expecting something about dunia only. Harus lebih powerful. Minta itu selalu dua, selalu seimbang: permintaan dunia, permintaan akhirat… Kayak yg diajarkan Allah sendiri: Rabbanaa aatinaa fid-duniaa hasanah, wafil-aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.

Permintaan seimbang pun trnyata msh ga seimbang. Sbb Allah ngajarin 2:1, dua banding 1. Permintaan kebaikan negeri akhir, msh ditambah permintaan selamat dan terlindungi dari api neraka. Dua permintaan berbanding 1 permintaan di dunia.

Ini sekaligus ngajarin juga kita, bahwa sebaik-baik permintaan, tetap permintaan akhirat. Tapi permintaan akhirat, tetaplah permintaan. Artinya, ya harus juga diminta. Jangan diem aja. Jangan sampe sedekah ya sedekah saja, baca Qur’an ya baca Qur’an saja, dhuha ya dhuha aja, berbuat baik ya berbuat baik saja. Jangan. Kudu ada permintaannya. Kudu ada doanya.

Salam. Selamat berbuat baik, dan berdoalah. Sesungguhnya Allah menunggu dan mendengar doa. Silahkan share apa2 yang didapat di www.yusufmansur.com atau di twitter @yusuf_mansur, ke sebanyak2nya orang. Dan salamkan salam saya, agar perbanyak sedekah, supaya doa lebih maqbuul lagi. Lebih dikabulkan. Juga jaga shalat fardhu berjamaah, di masjid, khususnya di masjid, dan sebisa mungkin jauhi dosa, jauhi maksiat. sumber : http://yusufmansur.com

Friday, September 13, 2013

MATEMATIKA DASAR SEDEKAH 1

Buat Saudara yang ikut KuliahOnline di wisatahati.com, dan sudah mengikuti Kuliah Dasar Tauhid, pembahasan ini sudah ga asing. Juga buat Saudara yang mengikuti Kuliah 100 Kasus Sedekah, pembahasan ini pun sudah ga asing. Apalagi buat Saudara yang rajin mengikuti tayangan wisatahati sejak dari MNC dulu (Nikmatnya Sedekah), hingga sekarang ini, di ANTV. Insya Allah sudah ga asing lagi dah.

Hanya kali ini, saya buat seri kuliah sedekah untuk social media, baik lewat Twitter, BB, FB, dan media-media jejaring lainnya. Dan saya masukkan ke dalam kuliah inspirasi dan motivasi untuk beberapa seri ke depannya. Apa tujuannya dibuat seri ini? Saya berharap Saudara mau mengajarkan sedekah ini kepada yang lain. Saudara pahami, dan Saudara ajarkan kepada yang lain. Juga tentu saja, supaya semakin semangat berbagi, dan paham seluk beluk sedekah. Ok, kita mulai dari pembahasan paling jadul, he he he.

Apa yang Saudara lihat dari matematika di bawah ini?

10-1 = 19
10-2 = 28
10-3 = 37
10-4 = 46
10-5 = 55
10-6 = 64
10-7 = 73
10-8 = 82
10-9 = 91
10-10 = 100

Bukannya 10 dikurang 2 itu 8? Bukan. Lihat angka-angka di atas. Berapa?

10 dikurang 1 itu 19, dan 10 dikurang 2 itu 28. Koq?

Semakin dikurangi, semakin gede bilangan hasilnya ya? Ya, sebab itu bukan matematika manusia. Itu Matematika Allah. Matematika Sedekah. Matematika pertambahan. Sedangkan kalau matematika manusia, matematikanya matematika pengurangan. Sehingga pertanyaannya ketika kita bersedekah mengeluarkan harta kita adalah: Tinggal berapa? Bukan jadi berapa. Dihitungnya sedekah sebagai pengeluaran. Bukan sebagai investasi.

Menurut matematika manusia, tinggal 9 jika kita memberi 1 dari 10 yang kita punya. Tapi kalau matematika sedekah, pertanyaannya adalah: Jadi berapa jika kita sedekah 1 dari 10 yang kita punya? Maka jawabannya: Jadi 19. Tidak ada itu pengurangan. Yang ada adalah penambahan, pelipatan.

Ya, saya sebut juga matematika pelipatan. Sebab Allah memang memberi penggantian lebih kepada mereka yang mau bersedekah. 2x lipat, 10x lipat, 700x lipat, hingga bilangan pelipat yang tak terbatas dari Allah. Hitung-hitungan matematika di atas memakai bilangan pengembalian dari Allah 10x lipat (Baca Qs. 6: 160). Kalau pake bilangan pengali 700x lipat? Jumlahnya akan wow! Amazing! Luar biasa! 10-1 = 709! (Baca Qs. 2: 261).

Lihat tabel berikut ini:

10-1 = 709
10-2 = 1408
10-3 = 2107
10-4 = 2806
10-5 = 3505
10-6 = 4204
10-7 = 4903
10-8 = 5602
10-9 = 6301
10-10 = 7000

Lihat? Punya 10, disedekahkan 10-10 nya, malah jadi 7000! Pembahasan ini ketemu pembahasan menariknya saat membahas sedekkah dan rizki, sedekah dan gaji, sedekah dan usaha, sedekah dan bisnis.

Lihat cuplikan implementasi berikut ya:

Gaji` : Rp. 1.000.000,-
Sedekah : Rp. 1.000.000,-
Hasil 10x lipat : Rp. 10.000.000,-
Hasil 700x lipat : Rp. 700.000.000,-

Tidak salah jika para guru, para orang tua, mengajarkan sedekah. Supaya berlipat-lipat lagi rizki buat kita. Itu belum bicara BONUS++ berupa ampunan Allah, kasih sayang Allah, ridho Allah, surganya Allah. Belum.

Ini baru gigi 1. Begitu saya bilang kalo bicara tentang matematika ini. Baru bicara matematika sedekah. Belum bicara juga konversian balasan sedekah berupa jawaban Allah bagi hajat dan masalah kita: Anak keturunan, jodoh, keluarga, pekerjaan, karir, keuangan, kesehatan dan soal-soal lain.

Kita pun belum bicara tentang sedekah dan doa, sedekah dan keikhlasan, sedekah dan kesabaran, sedekah dan baik sangka, sedekah dan tawakkal, sedekah dan istiqomah, sedekah dan ibadah, sedekah dan kesehatan, sedekah dan umur panjang, sedekah dan surga, sedekah dan neraka, sedekah dan cinta Allah, sedekah dan cinta Rasul. Belum. Baru bicara matematika dasar sedekah. Matematika dasar pun akan dibahas beberapa seri ke depan. Insya Allah. Menarik sekali membahas mengapa sedekah koq ga dibalas? Boleh ga sedekah dengan mengharapkan sesuatu balasan? Boleh ga sedekah ke orang tua sendiri, atau ke keluarga sendiri? Boleh ga sedekah sementara kita punya hutang? Apakah sedekah bisa bener-bener mendatangkan jodoh, anak, pekerjaan, rumah, mobil? Kapan sedekah bisa cepet dibalas Allah? Kapan sedekah malah ditolak Allah? Bagaimana sedekah yang benar itu? Gimana pula memperbesar pahala sedekah? Bisa kah orang miskin bersedekah seperti orang kaya? Bisakah seorang yang tidak punya, membangun masjid? Membangun sekolah dan pesantren? Apa yang tidak bisa ditembus dengan sedekah?

Di buku saya atas izin Allah, Introduction to the miracle (miracle of giving), pertanyaan-pertanyaan ini saya jawab melalui KuliahOnline. Dan sekarang saya berbagi dengan Saudara melalui seri Kuliah Inspirasi dan Motivasi Wisatahati. Mudah-mudahan dapat izin dan ridha-Nya.

Oh ya, mulai seri ke-3 nanti, atau pembahasan matematika dasar sedekah 2 dst., seri ini saya tulis saban minggu malam saja ya. Saban minggu malam jam 20.00, insya Allah Saudara bisa mendownload tulisan ini atau sekedar berbagi dengan yang lain.

Sampe ketemu di pembahasan berikutnya.

Untuk yang mau ikut pembahasan bismillaah dan a’uudzu billaah, sampe ketemu di Pesantren Daarul Qur’an. infonya, silahkan baca ulang tulisan sebelumnya, yang judulnya: Ada yang ga suka sama saya. Ada di sana. Makasih ya.

Salam, Yusuf Mansur SUMBER :YUSUF MANSUR(http://www.wisatahati.com)

Thursday, May 2, 2013

ENGKAU BESAR SEBESAR PERASAANMU

Besar dan kecil,banyak dipengaruhi oleh perasaan.
Dengan bantuan Stuart, Margalo diceritakan terbebas dari cengkeraman Falcon,si Elang Besar yang selama ini mengatur kehidupan Margalo.
Margalo adalah burung kecil, yang diperbudak oleh Falcon untuk mencuri.
Stuart sendiri adalah korban Margalo yang kemudian malah membuka kesadaran Margalo bahwa ia salah.
Tapi buat Margalo tidak gampang untuk lepas dari cengkeraman Falcon.
Untunglah Stuart datang membantu, dan membebaskan selamanya dari Falcon.
Tibalah saat bagi Margalo tuk berpisah dengan Stuart.
Biar bagaimanapun Stuart hanya tikus kecil, sedang ia adalah burung, yang kodratnya adalah terbang mengangkasa.
Kegelisahan Margalo adalah bahwa ia tidak pernah terbang jauh.
Margalo bilang bahwa ia belum pernah terbang bebas.
Apakah ia mampu atau tidak… Sedang impian setiap burung adalah bisa terbang ke Selatan selama musim semi.
Saat itu Stuart memberi motivasi kepada Margalo, “Margalo, engkau besar, sebesar perasaanmu…
Efektif! Keberanian Margalo muncul.
Maka mulailah Margalo mengepakkan sayapnya, memulai perjalanan panjangnya bergabung dengan burung-burung lain yang terbang ke Selatan.
Cerita lengkap dari penggalan cerita di atas bisa diikuti dari sebuah film, Little Stuart 2.
Dan sepenggal motivasi dari Stuart itu yang sedikit diabadikan ulang di serial Wisata Hati ini,
engkau besar sebesar perasaanmu….” Tanpa sadar, kita seringkali kehilangan kepercayaan diri lantaran kita berpikir pada ketidakmampuan, pada kekurangan.
Dan ini mempengaruhi perasaan, yang akhirnya mempengaruhi juga gerakan dan pikiran.
Kita merasa bodoh, maka bisa jadi kita bodoh beneran.
Kita merasa miskin, miskin beneran. Merasa kalah, kalah beneran.
Kita percaya bahwa kita bisa sukses, maka 75% kesuksesan sudah di tangan.
Kita percaya kita kecil, maka kecillah kita.
Percaya kita besar, maka peluang untuk besar lebih besar buat kita.
Kepercayaan diri adalah salah satu modal terbesar untuk sukses.

 SUMBER :http://masjidistiqlal.or.id/index.php/component/k2/item/174-engkau-besar-sebesar-perasaanmu