Saturday, March 16, 2013

MELAWAN ARUS

Bila menatap jauh hingga ke kaki langit, jarak pandang yang terbatas itu lalu membentuk paradigma bahwa laut dan langit seakan menyatu, padahal sebelumnya kedua objek ciptaan Allah itu sangat jauh jaraknya. Dengan dipengaruhi oleh kondisi geografi, pasang surut, keadaan angina dan selebihnya hanya Allah yang maha tahu, maka bergeraklah arus air laut itu dan membawa segala benda yang jatuh diatasnya. Wal hal buih memutih yang melata diatas permukaan air laut adalah sosok yang tidak berdaya menghadapi situasi sehingga kemana arah angina dan arus air bergerak, maka bergeraklah buih itu terombang ambing ke timur, ke barat dan sebagainya. Benda-benda yang dihanyutkan oleh arus air itu bisa dimaknai bahwa semuanya adalah objek yang selalu ikut arus, lalu keadaan benda-benda itu kemudian menjadi bidalan kepada orang-orang yang tidak punya pendirian, lemah dan tidak berdaya.

Orang-orang yang tidak punya pendirian akan terbawa oleh arus air sebagaimana benda atau buih dalam paparan diatas, dipermain-mainkan dan akan menjadi korban. Inilah keadaan yang lebih sesuai dengan bidalan diatas bahwa ikut arus dalam hal ini adalah terlibat dalam hal-hal yang salah, dalam hal dosa dan maksiat, menyalahi hak-hak orang lain, ikut dalam kecurangan, ikut dalam ketidakadilan dan hal-hal yang menyalahi norma agama dan kemanusiaan. Kesalahan dan yang semakna dengannya ini kemudian diikuti oleh kebanyakan orang karena kebodohan, ketidaktahuan, kepura-puraan bahkan kesengajaan untuk terlibat dalam kesalahan ini, lalu apabila ada yang tidak ikut terlibat atau tidak ikut berbuat seperti itu maka orang seperti ini adalah sesuai dengan judul diatas, dia adalah orang yang tidak ikut arus atau orang yang berani malawan arus.

Bahkan dalam hal kebenaran yang terkandung dalam norma agama dan kemanusiaan sikap ikut-ikutan atau ikut arus dilarang. Inilah yang disebut dalam Islam dengan istilah “ Taklid buta “. Maksud dari taklid buta yaitu orang yang mengikuti atau mengamalkan sesuatu dalam Islam karena ikut-ikutan. Orang buat diapun buat, orang beramal diapun beramal tanpa ada ilmu padanya sehingga ketika dia ditanya akan apa yang diperbuatnya itu dari mana sumbernya, dia tidak tahu. Cara beramal dengan taklid buta seperti ini dicegah oleh Islam bahkan celakalah orang tersebut. Hal ini difirmankan oleh Allah yang artinya “ Janganlah kamu mengikuti sesuatu hal yang tidak ada ilmunya pada kamu, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan pembicaraanmu akan diperhitungkan oleh Allah “.

Keseharian kita bisa melihat bagaimana orang yang mengikuti suatu hal tanpa ilmu, sebagaimana seseorang yang mengajarkan sesuatu amal kepada orang lain. Dia berdalih dengan hadits Nabi yang artinya “ Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat “. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW menyuruh para sahabat shalat seperti Nabi SAW shalat. Tetapi orang yang mengajarkan shalat diatas juga berdalilkan hadits ini sengan mengatakan bahwa “ Anak-anak shalat sebagaimana saya shalat “. Karena nya anak-anakpun ikut shalat sebagaimana yang dilakukan oleh orang itu. Pas tengah shalat, tiba-tiba orang tersebut menggaruk punggungnya karena ada yang gatal. Melihat itu anak-anak dibelakangpun ikut menggaruk punggungnya sebagaimana yang dilakukan oleh orang didepan yang menjadi gurunya itu. Peristiwa menjadi kebiasaan dari anak-anak murid itu, dimana setiap kali shalat mereka selalu saja menggaruk punggungnya sebagaimana pertama kali peristiwa menggaruk punggung itu terjadi. Ini adalah sebuah gambaran bagaimana orang yang hanya mengikuti sesuatu amalan tanpa ada ilmu padanya.

Bagaimanapun dalam Islam “Taklid” mesti ada karena kita hidup dizaman yang jauh dari zaman Rasulullah SAW, zaman shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in yang sudah tentu sangat sulit untuk menyaring sesuatu yang datang langsung dari Rasulullah SAW, melain kan dengan perantara yang terus bersambung kepada Rasulullah Muhammad SAW. Perantara itu bisa terjadi melalui hubungan belajar antara guru dan murid, riwayat-riwayat yang menyampaikan dan media ( risalah ) karya tulis ( kitab-kitab ) yang mu’tabarah atau kitab-kitab yang telah tersebar dikalangan umat Islam yang diakui keabsahannya yang datang dari Rasulullah SAW. Karenanya seseorang yang jauh hidupnya dari zaman Nabi SAW tidak bisa mengelak untuk bertaklid atau seseorang yang hidup dizaman ini tidak bisa berkata bahwa dia tidak mau bertaklid. Ketika dia mengatakan bahwa dia tidak mau bertaklid itu bisa dipertanyakan seperti apakah alasan anda kalau tidak mau bertaklid ?

Andaikan dia menjawab bahwa saya hanya mau mengamalkan ajaran Islam ini secara murni datang dari Rasulullah SAW, tentu pertanyaan lain akan muncul lagi bahwa dengan cara apa dan metode apa yang bisa menyampaikan anda kepada ajaran yang murni dari Nabi SAW ? Andaikan dia menjawab melalui penelusuran literature ( karya tulis / kitab-kitab. Maka pertanyaan lain muncul lagi siapa yang mengarang kitab-kitab atau literature itu ? Jawabannya sudah tentu yang mengarang kitab ( literature ) itu adalah para ulama dan seterusnya para ulama itu mendapatkannya dari para ulama sebelumnya dan seterusnya sehingga bersambung sampai kepada Nabi SAW. Bila sampai pada konklusi seperti ini maka sudah tentu ini juga adalah taklid atau mengikuti jalan yang telah dilalui oleh kebanyakan kaum muslimin dalam mengamalkan ajaran Islam sehingga bisa dikatakan bahwa seseorang tidak akan bisa menghindari taklid ini.

Tetapi taklid sebagaimana kita uraikan diatas yaitu lewat pembelajaran, penelitian atau pengkajian sesuatu hal terutama ajaran Islam hingga menyampaikan seseorang kepada Nabi SAW, taklid seperti ini bukanlah sebagaimana taklid dari orang-orang bodoh tetapi taklid dalam keadaan seperti ini adalah taklid yang terjadi karena pembelajaran dan pengkajian. Bila telah sampai dalam lingkungan taklid seperti ini maka seseorang juga akan diperkaya oleh literature dengan metode dan cara yang bermacam-macam dalam Islam, hal ini adalah sah-sah saja, asalkan semua itu bisa dipertanggungjawabkan dan bersambung terus sampai kepada Nabi SAW. Bila tidak sampai kepada Nabi maka taklid seperti ini juga tidak bisa diterima sekalipun melalui pengkajian dan pembelajaran. Tidak bisa dielakkan bahwa proses bertaklid seperti ini juga menyampaikan seseorang kepada cara atau metode pengamalan ajaran Islam dalam diskursus yang spesifik kepada ulama-ulama tertentu yang disebut sebagai mazhab. Seseorang yang telah menelusuri metodologi dan krakteristik mazhab semakin terinspirasi bahwa dia bisa beramal dengan berbagai cara dari mazhab-mazhab itu dengan keyakinan bahwa akan sampai kepada Rasulullah. Dia tidak terikat oleh mazhab tertentu.

Dari uraian diatas sangat jelas berbeda antara taklid yang pertama dan taklid yang kedua, dimana taklid yang pertama adalah taklid buta yang tidak ada pedoman dan ilmu pengetahuan padanya, sedangkan taklid yang kedua adalah taklid dalam menghimpun informasi, mempelajari dan mengkaji dalam rangka mengetahui dan meyakini amaliyah yang dilakukan akan sampai kepada Rasulullah SAW. Taklid sebagaimana dalam kategori yang kedua adalah boleh karena tidak mungkin mengamalkan ajaran Islam ini tanpa bertaklid kepada orang-orang sebelumnya, yang menyampaikan kita kepada Nabi SAW. Kebanyakan orang yang menghimpun informasi, mengkaji, mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam seperti ini bukanlah ikut arus, tetapi mempelajari, mengkaji krakteristik arus air agar bahtera yang dilayari bisa selamat, sehingga seseorang tidak boleh melawan arus yang akhirnya mencelakakan diri sendiri bahkan mecelakakan orang yang ikut bersama.

Nah…melawan arus seperti apakah yang dimaksud dalam judul diatas ? Sudah tentu bahwa orang yang melawan arus dalam hal ini adalah orang yang tidak terikut-ikut dalam hal yang salah, tidak terikut-ikut dalam hal berbuat dosa dan kemaksiatan, menyalahi norma kemanusiaan dan agama. Hal ini hendaklah ada pada orang beriman, dia tidaklah hanyut oleh arus air, tetapi dia hendaklah menjadi orang yang melawan arus artinya dia tidak mau berbuat kesalahan sebagaimana orang lain yang menganggap dosa dan kesalahan itu sebagai hal yang wajar-wajar saja, dan sebaliknya orang yang berbuat kebajikan malah dianggap sebagai orang yang salah dan aneh. Zaman panca roba, orang yang salah menjadi pahlawan, sedangkan orang yang benar malah menjadi korban, adalah kenyataan yang harus ditanggung oleh orang yang melawan arus. Perlu kesiapan, perlu keberanian serta bersabar dan bertawakkal kepada Allah SWT. Wallaahu a’lam. Abd. Razak Muhidin

0 comments:

Post a Comment