Friday, December 27, 2013

TAHUN BARU 2014 Bagian 1 ( satu)



Tinggal beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun 2013 dan memasuki tahun baru 2014. Sebuah kebiasaan yang mentradisi dalam masyarakat kita entah dimaklumi sebelumnya, entah diberitahu atau tidak, semuanya berbaur bersama merayakan acara tahun baru, apakah dalam radius yang paling kecil yaitu dalam rumah atau yang lebih luas dari pada itu, tahun baru pasti dirayakan dengan berbagai cara. Bagi orang yang beriman, pergantian tahun bukan semestinya dirayakan dengan gegap gempita tetapi yang lebih bermakna adalah menyadari betapa pentingnya waktu dalam rangka meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. Apalah artinya sebuah semangat yang berapi-api menyambut tahun baru dengan suara tinggi menggelegar meneriakkan “Selamat Datang Tahun Baru 2014”, tetapi ketika waktu itu tersaji hanya semakin mambawa pada kemurkaan Allah ?. Kelalaian dalam mengisi waktu tanpa peningkatan iman justru disebut oleh Allah sebagai kerugian belaka.

Nah untuk tujuan peningkatan iman dan amal shaleh sehubungan dengan pergantian tahun ini baik kita simak nasehat imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, sebagaimana dinukilkan oleh Said Hawwa dalam karyanya “Mensucikan Jiwa”. Diantara nasehat itu adalah agar umat islam selalu murabathah dalam setiap waktu dan kesempatan. Apa itu murabathah ?. Murabathah adalah sikap kesiap-siagaan dari setiap orang yang beriman untuk menghadapi hidup dan kehidupan terutama untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Aallah swt. Sekurang kurangnya ada enam langkah murabathah dari orang beriman terutama memasuki tahun baru ini. Diantara sikap murabathah itu adalah Musyarathah, Muraqabah, Muhasabah, Mu’aqabah, Mujahadah, dan Mu’atabah. Enam macam murabathah (kesiapan) ini dapat diuraikan secara singkat dibawah ini.

Yang pertama ; Musyarathah.

Musyarathah bermakna menentukan persyaratan. Maksudnya bahwa apabila manusia ingin sukses baik dalam urusan duniawi maupun urusan akhirat hendaklah menentukan prioritas atau sasaran yang hendak dicapai. Apa yang dinukilkan oleh Alghazali ini dapat dipahami bahwa tujuan hidup bagi orang beriman ada dua yaitu tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan hidup jangka pendek adalah segala peri hidup di dunia dan tujuan jangka panjang adalah akhirat. Kedua-duanya teramat penting untuk dijalankan oleh orang beriman. Lalu untuk mencapai kesuksesan dari dua kehidupan ini hendaklah ditetapkan syarat untuk mencapai kesuksesan. Syarat itu tidak lain adalah beriman kepada Allah, lalu keimanan itu hendaklah dibarengi dalam setiap aktifitas (amal shaleh) yang digeluti. Bila hanya amal shaleh tetapi tidak ada keimanan maka sia-sialah semua itu sebagaimana orang-orang kafir dimana segala kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir tidak dihitung oleh Allah swt. Dalam pada ini Alghazali menulis bahwa persyaratan mencapai kesuksesan tidak obahnya dengan mitra dagang antara pemodal dan pengelola keduanya diikat dengan persyaratan tertentu. Seyogyanya juga antara orang beriman dengan Allah swt. Bersempena dengan tahun baru ini kiranya orang beriman memperbaharui musyarathahnya untuk menggapai kesuksesan ditahun yang akan datang.

Yang kedua ; Muraqabah.

Muraqabah adalah sikap yang senantiasa merasakan pengawasan Allah swt dalam setiap saat, setiap detik dan setiap waktu. Bila merasa Allah selalu mengawasi kita dalam setiap keadaan maka sesorang akan menghindari segala dosa dan kesalahan, selalu berusaha untuk taat kepada Allah, baik ketika ramai maupun ketika sendirian. Sikap ini apabila seseorang berbuat kebajikan maka dihiasi kebajikan itu dengan sebaik-baiknya yang dalam bahasa agama disebut Ihsan. Para ulama mendefinisikan Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Allah, apabila engkau tidak meihat Allah maka yakinlah bahwa Allah melihat engkau. Alghazali menulis bahwa antara hamba dengan Allah juga sama sebagaimana mitra dagang, bahwa apabila ingin dagangannya bisa mendapatkan keuntungan haruslah ada pengawasan sehingga tidak disalahgunakan atau menyalahgunakannya. Pasca tahun baru ini kirana kita semua hedaklah memperbaharui muraqabah dengan Allah swt.

Yang ketiga ; Muhasabah.

Dalam pengertiannya secara lughah (bahasa), muhasabah artinya menghitung. Maksudnya menghitung segala yang telah dijalankan, apakah yang berwujud amal kebajikan yang perlu ditingkatkan atau dosa dan kesalaha yang harus ditinggalkan. Setiap akhir tahun setiap peniaga (pedagang) melakukan perhitungan dalam rangka mengetahui sebanyak mana keuntungan dan kerugiannya. Bila modal yang dipergunakan dari awal berkembang menjadi lebih banyak berarti keuntunganlah yang terjadi dan sebaliknya kalau modalnya tidak bertambah malah berkurang tentu kerugianlah yang terjadi. Bahkan dalam perhitungan ekonomi bila modal tetap atau tidak berkurang dan tidak bertambah, itupun sudah dihitung rugi. Mengapa ?. Tidak lain karena operasional yang berjalan sia-sia saja. Adapaun perhitungan dalam urusan akhirat tidak demikian, dan sulit menghitung untung ruginya, tetapi paling tidak menghitung mana amal yang belum di jalankan kalau perlu ditingkatkan. Begitulh hendaknya ketika diakhir tahun dan diawal tahun sebagaimana orang-orang shaleh yang membuat perhitungan atas dirinya sendiri.

Yang ke empat ; Mu’atabah’

Mu’atabah artinya mencela diri sendiri. Semua orang tidak mampu mencela dirinya sendiri karena bisa saja terjadi karena egonya, bahwa dia yang paling benar, paling pintar, dll. Nah kalau demikian bagaimana mencela diri sendiri sebagai orang yang bersalah, sebagai orang yang bukan paling baik dll ?. Barang kali kita perlu mengambil pelajaran dari Imam Syafi’i yang menjadikan orang yang memusuhinya sebagai wasilah untuk mengetahui aib diri sendiri. Bila ada orang yang mencela dirinya, imam Syafi’I malah bersukur karena dari orang tersebut dia mengetahui kesalahan (aib) dirinya sendiri, lalu berusaha untuk menutupinya dengan kebaikan padanya.

Yang ke lima; Mu’aqabah.

Mu’aqabah artinya menghukum dirinya sendiri.. Menjadi hakim atas diri sendiri adalah perkara yang sangat berat apalagi setiap diri merasa benar (narsis) atas segala yang telah ia lakukan. Tetapi para meter untuk menghukum diri sendiri sebagai yang bersalah ialah ketika telah diadakan muhasabah (perhitungan). Bila terjadi kerugian berarti kesalahan itu telah terjadi dan harus diputuskan oleh si empunya diri betapa salah dosa itu telah terjadi dan siap menghukum diri sendiri. Kalau diputuskan sebagai salah maka hendaklah diperbaiki kesalahan itu dengan amal yang berguna. Umar ra selalu mencambuk dirinya setiap malam apabila ad dosa dan kesalahan atau kurang menambah keimanan.

Yang ke enam ; Mujahadah.

Mujahadah artinya berjihad atau bersungguh-sungguh, yaitu melakukan amaliah dengan sungguh-sungguh. Setelah semua proses diatas dilakukan maka selanjutnya adalah bersungguh-sungguh meningkatkan pengabdian (ibadah) dalam arti meningkatkan amal shaleh. Kalau selama ini tidak shalat saatnya sekarang mulai shalat dan bersungguh- sungguh menjalankannya. Kalau selama ini selalu berjudi, maka saatnya sekarang ditinggalkan dengan cara bersungguh-sungguh meninggalkannya. Demikian juga dalam segala kebaikan hendaklah dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi bukan bersungguh-sungguh dalam kejahatan dan dosa maksiat.

Inilah barangkali yang perlu kita maknai ketika memasuki tahun baru 2014 dan meninggalkan tahun 2013. Semoga kita termasuk orang-orang dalam keberuntungan Amin.

Selamat Datang Tahun Baru 2014…Selamat Jalan Tahun 2013”. Wallahu a’lam. (Abd. Razak Muhidin)

0 comments:

Post a Comment