Friday, January 24, 2014

TAHUN BARU 2014 Bagian 2 ( dua )

Abd. Razak Muhidin


Sudah tiga hari kita berada dalam tahun 2014. Allah bersumpah dengan perjalanan waktu bahwa demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta apabila manusia mau memperhatikannya dengan saksama. (QS. Ali Imran : 190 – 191). Disamping itu agar manusia mengetahui bilangan tahun dan segala perhitungan yang dari sana terlahirlah segala karya dan peradaban. (QS. Yunus : 5). Lalu keanekaragaman budaya dan peradaban yang terhasil dari perjalanan waktu itu tidak berarti apa-apa, rugi dan sia-sia, apabila tidak dibarengi dengan keimanan kepada Allah dan beramal shaleh serta berpesan-pesan dalam kebenaran dan kesabaran. (QS. Al-Ashar : 1 – 3). Begitulah kiranya yang mengilhami kita semua dalam peri hidup dan kehidupan ini, terlebih lagi ketika kita memasuki pergantian tahun. Andaikan kita mempunyai keimanan berarti kita dijauhkan dari apa yang bernama rugi, tetapi iman tanpa amal shaleh juga sia-sia tetap rugi adanya. Lalu amal shaleh kalau tidak dibarengi dengan nasehat-menasehati dalam kebenaran, masih rugi juga dan kalau ada iman, ada amal shaleh dan nasehat pada kebenanran itu telah ada pada seseorang juga masih rugi kalau tidak dibarengi dengan kesabaran.

Antara iman, amal shaleh, nesehat dalam kebenaran dan sabar adalah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Bila dipisahkan atau seseorang hanya memiliki tiga dan kurang dari salah satunya niscaya tidak sempurnalah semua itu. Seorang yang beriman dituntut untuk merealisasikan keimanan itu dengan amal shaleh, kalau tidak demikian maka iman dalam keadaan seperti ini hanya sia-sia belaka. Karena iman dalam definisinya adalah membenarkan dalam hati, mengucapkannya dengan lidah, dan beramal dengan anggota tubuh. Dalam sebuah Atsar disebutkan bahwa iman adalah dengan pembuktian amal bukan hanya dengan hayalan. Iman yang hanya membenarkan dalam hati dan dizhahirkan melalui ucapan inilah iman yang ada pada kebanyak orang awam, bila ditanya “Adakah anda beriman kepada Allah”?...Dia menjawab “Ya” tetapi merealisasikan keimanan itu dalam kesehariannya tidak ada. Tidak obahnya seperti orang diluar Islam yang ingin masuk Islam. Setelah masuk Islam, tidak beramal mengikuti apa yang diajarkan oleh Islam. Dalilnya tidak lain bahwa yang penting Islam, karena dengan Islam pasti selamat. Selain itu walaupun iman hanya seberat atompun akan dikeluarkan oleh Allah dari neraka, tidak seperti orang kafir yang terus kekal abadi disana. Bisa saja berdalih seperti ini tetapi mengapa begitu berani dengan siksa neraka setelah itu baru keluar ?. Sedangkan yang terbaik adalah selamat dari siksa itu ?. Oleh karena itu iman hendaklah jangan dalam hati dan hanya dalam ucapan belaka, tetapi dibuktikan dengan amal shaleh.

Demikian juga amal shaleh yang tidak dilandasi keimanan kepada Allah akan sia-sia tidak obahnya dengan orang-orang kafir yang melakukan kebajikan, sia-sialah semua itu disisi Allah swt. (QS.3/Ali Imran :10). Dilain ayat disebutkan bahwa amalan orang-orang kafir itu bagaikan fatamorgana, tidak berguna dihadapan Allah swt. Mengapa tidak dihitung amalan mereka oleh Allah swt ?. Tidak lain karena tidak ada keimanan mereka kepada Allah swt. Kalau mereka beribadah menyembah Tuhan bukan Tuhan kepada Allah tetapi kepada batu, kayu, matahari dll. Kalau mereka berbuat kebajikan yang berguna untuk kemanusiaan, misalnya membantu orang-orang yang tertimpa musibah, itu hanya dirasakan dalam nilai-nilai kemanusiaan, tidak untuk Allah swt. Semua yang mereka lakukan itu bisa dihitung oleh Allah sebagai amalan dan berpahala apabila dilandasi oleh keimanan kepada Allah swt. Pada zaman ini adalah zaman Nabi saw maka keimanan yang sah adalah keimanan pada ajaran Islam, selain dari itu keimanan yang telah batal, dan batallah segala kebajikan yang dilakukan. Kembali lagi kepada orang Islam, bahwa kalau sudah Islam tentu beriman kepada Allah swt. Tetapi dalam segala amalan yang dilakukan oleh orang Islam juga harus diseleksi apakah dilandasi oleh keimanan kepada Allah atau tidak?. Bila tidak dilandasi oleh keimanan kepada Allah, atau dilatari oleh pamrih pada sesuatu, maka walaupun yang beramal itu orang Islam tidak akan diterima oleh Allah swt. Bandingkan saja orang Islam saja harus diseleksi amalannya oleh Allah apalagi orang-orang kafir. Patut Allah menyebut dalam firman-Nya diatas sebagai amalan yang sia-sia.

Setelah beriman dan beramal shaleh, tetap rugi juga apabila tidak ada usaha untuk mena-sehati pada kebenaran (dakwah). Oleh karea itu bila sudah beriman dan beramal shaleh harus ada kegiatan dakwah mengajak orang pada kebenaran. Tidak disukai orang-orang yang hanya mau beriman dan beramal shaleh, melakukan segala kebajikan misalnya shalat, puasa, zakat, haji dll, tetapi tidak ada kegiatan dakwah padanya. Karena dakwah tersimpan didalamnya kepedulian terhadap orang lain, disamping itu tersebarnya risalah Allah dan Rasul-Nya. Selain itu dakwah juga berfungsi untuk mengeliminir segala kejahatan atau kemaksiatan. Beramal dengan shalat, puasa, zakat, haji dll, semua itu adalah bisu, tidak ada unsur nesehat-menasehati pada kebenaran dan mencegah kemung-karan. Oleh karena itu disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya sebagaimana tersebut diatas bahwa setelah beriman dan beramal shaleh hendaklah ada kegiatan saling mena-sehati pada kebenaran (dakwah). Dalam kitab Tanbihul Ghafilin disebutkan bahwa disebuah tempat bermukimlah orang-orang yang taat kepada Allah swt. Tetapi ditengah-tengah mereka ada seorang yang berbuat maksiat dan mereka tidak mencegahnya, maka Allah menjatuhkan azab keatas mereka semuanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. 8/al-Anfaal : 25 “Dan takutlah kamu akan azab yang diturunkan oleh Allah tidak hanya menimpah orang-orang yang zhalim diantara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaaan-Nya”.

Nah bagaimana kalau seseorang tidak bisa berdakwah dalam arti tidak bisa menasehati orang lain karena tidak ada ilmu dll?. Sebenarnya dakwah itu ringan dan tidak dianggap berat karena bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seseorang tidak bisa tampil memberikan nasehat kepada orang ramai didepan umum tetapi sekurang-kurangnya dia bisa menasehati keluarganya. Ayah menasehati anak-anaknya agar terus beriman dan beramal shaleh, kalau ada yang salah dan berbuat maksiat maka ditegur (cegah). Demikian juga ibu kepada anak-anaknya, kakak kepada adik-adiknya dll. Dengan demikian dakwah berjalan dengan sendirinya. Dan kalau mau yang lebih afdhal maka libatkan diri dalam kegiatan-kegiatan dakwah, menghadiri pengjian, majelis taklim dll. Kalau ada harta bisa disumbangkan untuk kegiatan dakwah, semua ini adalah dalam rangka terlibat dalam dakwah itu sendiri.

Setelah beriman, beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebenaran maka yang terakhir yang tidak bisa dilupakan adalah sabar. Artinya bahwa sabar hendaklah ada dalam beberapa kegiatan diatas. Bila memiliki iman harus ada kesabaran, demikian juga bila beramal shaleh harus bersabar dan bila menasehati (dakwah) pada kebenaran juga hendaklah ada kesabaran. Orang yang beriman kadang harus diuji oleh Allah akan keimanannya, yang apabila tidak ada kesabaran, maka iman akan menjadi rusak, justru berbalik menjadi kufur. Orang yang beramal shaleh harus dibarengi dengan kesabaran untuk tetap dalam beramal, kalau tidak maka akan berbalik menjadi durhaka. Sudah beramal dengan sebaik-baiknya tiba-tiba datang musibah yang dahsyat. Nah kalau tidak ada kesabaran tentu berbalik menjadi durhaka. Apalagi dalam hal dakwah kalau tidak dibarengi dengan kesabaran maka hancurlah keharmonisan manusia yang berbeda latar belakang budaya, status sosial dan agama. Demikian…Insya Allah semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan adanya perjalanan waktu, bukan menjadi orang-orang yang merugi. Wallahu a’lam.

0 comments:

Post a Comment