Friday, January 24, 2014

MEMBELI SURGA DENGAN MEMAAFKAN

 Rudi Utomo


Suatu ketika para sahabat sedang berkumpul di sekitar Rosululloh SAW, mereka melihat suatu pemandangan yang aneh. Tiba – tiba saja mereka melihat Nabi SAW tampak bersedih dan mata beliau berkaca – kaca seolah akan menangis. Tetapi tidak lama kemudian, tampak wajah beliau berbinar – binar gembira, bahkan beliau tertawa sehingga kelihatan dua gigi beliau.

Para sahabat penasaran, tetapi mereka malu untuk bertanya, sampai akhirnya umar yang memang cukup kritis, berkata, “Wahai Rosululloh, apa yang membuat engkau tampak menangis, kemudian tertawa ??” Nabi SAW tersenyum melihat wajah – wajah para sahabat yang tampak keheranan sekaligus penasaran. Kemudian beliau berkata, “Sungguh di tampakkan kepadaku suatu pemandangan di saat di tegakkan pengadilan Alloh ( yakni, yaumul hisab, hari perhitungan )…”

Kemudian beliau menceritakan bahwa ada dua orang dari ummat beliau yang menghadap Alloh SWT. Salah satunya mengadukan temannya, ia berkata, “Wahai Alloh, ambilkan untukku, kedzoliman yang telah dilakukkan saudaraku ini ( padaku )..” Maka Alloh berfirman kepada orang yang mendzalimi tsb, “Berikanlah kepada saudaramu kedzalimanmu itu ( yakni kebaikannya, untuk menebus kedzalimannya yang telah dilakukannya saat di dunia kepada saudaranya itu )..” “Wahai Robbi, bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan aku tidak ( lagi ) memiliki kebaikan sedikitpun !!” kata lelaki yang dzalim itu.

Alloh berfirman kepada laki – laki yang menuntut tsb, “Bagaimana engkau meminta darinya, sedangkan ia tidak memiliki lagi kebaikan sedikitpun...!!’’

“Diambilkan dari keburukan – keburukanku, ya Alloh, dan pikulkanlah kepada dirinya..!!” Memang seperti itulah yang di ajarkan oleh Rosululloh SAW, dosa atau kedzaliman yang berhubungan dengan manusia ( termasuk Hutang ), tidak cukup hanya bertaubat kepada Alloh. Harus di selesaikan (dihalalkan) dengan mereka ketika masih hidup di dunia. Jika tidak, kejadiannya akan seperti yang di ceritakan Nabi SAW tsb di atas. Ketika melihat pemandangan itulah Nabi SAW merasa bersedih dan hampir menangis melihat keadaan ummat yang memilukan tersebut. Reaksi beliau yang seperti itu di lihat oleh para sahabat tanpa tahu penyebabnya, kemudian Nabi SAW bersabda, “Itulah hari yang agung, dimana pada hari itu setiap orang membutuhkan adanya orang lain yang dapat memikul kesalahan – kesalahannya..!!”

Tak lama kemudian Nabi SAW meneruskan cerita beliau, bahwa dalam keadaan seperti itu Alloh SWT berfirman kepada lelaki yang mengajukan tuntutan, “Angkatlah kepalamu dan lihatlah !!”. Lelaki tersebut mengangkat kepalanya dan melihat pemandangan yang menakjubkan, kalau sekarang ini bisa digambarkan seperti melihat tayangan televisi raksasa, yang membuat terpana kagum. Ia berkata, “Ya Robbi, saya melihat kota – kota yang bangunannya bertahtakan perak dan emas. Untuk Nabi yang manakah ini ? Untuk orang yang setia yang manakah ini ? Untuk orang syahid yang manakah ini ??”

Alloh berfirman, “Itu semua untuk orang – orang yang mampu membayar harganya !!” “Siapakah yang mampu membayarnya, ya Alloh ?” tanya lelaki itu. “Engkau mampu membayarnya !!” “Dengan apa saya harus membayarnya, ya Alloh ?” “Dengan member maaf kepada saudaramu !!”

Segera saja lelaki penuntut tersebut berkata, “Ya Alloh, saya telah memaafkan dirinya !!” Dalam riwayat lain disebutkan, setelah lelaki tersebut memaafkan temannya, Alloh berfirman kepadanya, “Gandenglah tangan saudaramu itu, dan ajaklah ia masuk ke surga yang telah menjadi milikmu tersebut !!” Ketika melihat pemandangan tersebut, Nabi SAW menjadi gembira dan beliau tertawa sehingga kelihatan dua gigi seri beliau, reaksi yang para sahabat lihat tanpa mengetahui penyebabnya.

Setelah menceritakan semua itu, Nabi SAW bersabda, “Wahai manusia, bertaqwalah kepada Alloh dan perbaikilah hubungan antara kalian. Sesungguhnya Alloh menghubungkan antara orang – orang mukmin..!!” Inilah sebuah kisah yang menjelaskan pada kita akan suatu amaliah yang amat mulia yang dapat mengantarkan kita pada surga-Nya Alloh SWT yaitu sifat pemaaf.

Memaafkan orang yang berbuat dzalim kepada kita memang amat membutuhkan kesabaran jiwa dan kelapangan hati. Apalagi jika luka di hati telah terlanjur menganga, dalam kondisi seperti ini kadang yang muncul justru perasaan dendam dan berharap kejelekan terhadap orang yang telah melukai fisik dan hati. Sehingga jangankan mendo’akan kebaikan, memaafkan kesalahannya saja sangat berat.

Keengganan untuk memberi maaf akan menguat manakala kesempatan untuk menuntut balas terhampar luas di hadapan. Di tambah lagi dengan status sosial orang yang berbuat salah itu berada jauh di bawah kita. Jika hati tidak ada benteng iman, bisa – bisa ambisi nafsu untuk balas dendam akan menjelma menjadi tindakan nyata.

Untuk bisa memaaafkan orang yang telah berbuat zalim kepada kita, butuh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Jika seseorang mampu memberi maaf meski dia berada pada pihak yang benar dan memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada orang yang telah berbuat jahat kepadanya, maka itulah tanda kemulyaan dan ketaqwaan dirinya.

Rosululloh SAW bersabda : “Sesungguhnya Alloh maha pemaaf dan senang memaafkan, barang siapa yang memberi maaf ketika ia mampu membalas, niscaya Alloh akan mengampuni dia disaat kesukaran. Tiadalah orang yang memberi ampun terhadap kezaliman karena mengharap keridhoan Alloh, melainkan Alloh akan menambah kemulyaan kepadanya di hari kiamat.“ Dan satu diantara tanda orang yang bertakwa adalah tidak berat untuk memaafkan kesalahan orang lain. Alloh SWT berfirman dalam surah-Nya, ”…..dan orang – orang yang menahan amarahnya dan memaafkan ( kesalahan ) orang lain. Dan Alloh menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan”. ( QS : Ali Imron : 134 ).

Dalam syariat islam memang diper bolehkan untuk menuntut balas terhadap kejahatan - kejahatan yang di timpakan pada kita dengan balasan yang serupa. Namun memaafkan merupakan sikap yang jauh lebih baik dan lebih mulia daripada membalas kejahatannya meski dengan balasan yang serupa.

“.. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas ( tanggungan ) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang yang lalim”. ( QS : Asy-Syuro : 40 ). “.. tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia “. ( QS : Asy-Syuro : 43 ) Di dalam kehidupan bermasyarakat, sosial, bahkan dalam kehidupan umat Islam saat ini banyak sekali terjadi perbedaan paham dan pendapat. Baik di bidang fiqh maupun yang lain – lainnya, perbedaan – perbedaan tersebut kadang sampai menimbulkan konflik dan benturan yang cukup keras. Maka, bila setiap muslim bersifat pemaaf terhadap saudaranya, berlapang dada dan saling menghormati pendapat yang berbeda tersebut, insya Alloh persatuan dan kesatuan umat akan bisa diperkokoh. “ jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang – orang yang bodoh “. ( QS : Al Arof : 199 ). “ Sifat – sifat yang baik itu tidak di anugerahkan melainkan kepada orang – orang yang sabar dan tidak di anugrahkan melainkan kepada orang – orang yang mempunyai keuntungan yang besar”. ( QS: Al Fushilat : 35 ) Semoga Alloh mengaruniai kita sifat pemaaf, suka memberi dan suka menyambung persaudaraan. Wallahu a’lamu bish-showab.

0 comments:

Post a Comment