Tuesday, March 19, 2013

PEMBELAAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW- 1

Abd.Razak Muhidin 
Pada jum’at lalu telah dipaparkan tentang dakyahan nai-nabi palsu sepeninggal Rasulullah SAW, akibat yang ditimbulkan oleh dakyahan itu serta pembelaan keatas nabi Muhammad SAW oleh khalifah Abubakar dalam menumpaskan nabi-nabi palsu itu. Kebijakan Abubakar RA bisa dimaknai bahwa betapa jati diri umat Islam dan kewibawaannya sangat terangkat waktu itu, karena system dan pemerintahan yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Pemerintahan dengan ciri seperti ini bukan hanya menumpaskan nabi-nabi palsu tetapi juga mengawal dakwah dan syi’ar Islam berikut menjalankan amar makruf nahi mungkar, sebagaimana dimaklumi bahwa penumpasan sekelompok orang yang enggan membayar zakat, juga terjadi pada zaman Abubakar ini. Belakangan ketika umat Islam telah dijajah oleh bangsa Barat yang mengeliminir system Islam dan menerapkan system kuffar yang sekuler, maka permasalahan umat menjadi semakin runyam, tidak ada penyelesaian yang tegas, bahkan terkesan sebagai ketertundukan rekapitulasi nilai-nilai Islam kepada nilai-nilai sekuler yang memasang jargon demokrasi, hak azasi dll.

Kesan yang bisa dirasakan bahwa hegemoni dan dominasi Barat telah mengeliminir nilai- nilai Islam bisa dibuktikan ketika umat Islam diperhadapkan dengan berbagai masalah, umat Islam menjadi tidak berdaya mengatasinya lantaran tersandung oleh jargon hak azasi dan demokrasi. Bila mengambil tindakan tegas keatas kelompok-kelompok sempalan yang menodai kesucian ajaran Islam, menodai ajaran Allah dan rasul-Nya, disana terbayang hantu demokrasi dan hak azasi, jangan sampai melanggar hak azasi dan dituding tidak demokratis. Akhirnya, penodaan kesucian ajaran Islam itu dibiarkan begitu saja dan kalaupun ditangani jangan terlalu difokuskan, atau bisa dibahasakan dengan bahasa-bahasa diplomasi yang membingungkan, berkelok-kelok dan berbelok-belok, sehingga semua menjadi bingung. Bila bingung, maka masalah akan selesai dengan sendirinya karena semua menjadi bosan, capek, buang-buang waktu, lebih baik aku pergi kerja untuk anak istri aku. Cara mengatasi suatu masalah yang direkayasa seperti ini, bisa dibahasakan bahwa pembohongan keatas masyarakat khususnya umat Islam, telah terjadi.

Lebih parah lagi, ketika mengambil kebijakan keatas kelompok atau individu yang menodai kesuciaan ajaran Islam, yang merusak ajaran Allah dan rasul-Nya tidak dilaksanakan karena berdalih bahwa demikianlah suatu bangsa yang majemuk, berbilang kaum, suku bangsa dan agama. Dalih seperti ini bisa disingkatkan bahwa demikianlah Negara yang bukan Negara Islam, sehingga mengatasi suatu masalah jangan mengguna- kan acuan Islam. Dalih seperti ini wajar kalau datang dari orang yang bukan Islam, tetapi bisa membatalkan iman dan Islam dari seseorang yang beragama Islam, karena orang Islam tidak patut mengambil rujukan hukum selain hukum Islam. Bila tidak merujuk pada hukum Islam maka segala aturan Islam hilang dengan sendirinya, yang bisa dibahasakan bahwa umat Islam tidak usah lagi shalat, karena shalat adalah aturan dari hukum Islam. Demikian juga tidak usah puasa, tidak usah zakat, tidak usah haji, tidak usah peduli pada sesame, juga tidak usah melestarikan alam semesta karena semua itu adalah aturan dari hukum Islam. Tentu aneh pandangan seperti ini. Karenanya menyele- saikan masalah umat Islam jangan berdolak dalik dan jangan menggunakan aturan lain untuk menyelesaikannya melainkan aturan Islam, baru bisa.

Tertuntut umat Islam baik secara individu maupun kelompok untuk merujuk segala permasalahan kepada hukum Islam yang datang dari Allah SWT, baik hukum Allah itu telah resmi berlaku atau tidak sebagaimana tersebut diatas, maka semakin baik lagi ketika hukum Allah itu diterapkan secara resmi dalam system bernegara. Dari sini bisa dimafhumi bahwa urusan yang menyangkut umat Islam dan ajaran agamanya, juga urusan yang lain semakin teraplikasi dengan baik, tanpa dipengaruhi oleh dominasi dan hegemoni asing ( barat ), bahwa umat Islam telah menemui jati dirinya untuk mengatur umatnya dan masyarakat pada umumnya, sebagaimana yang terjadi pada zaman awal Islam, sebelum masuknya kaum imperialis yang membawa firus-firus demokrasi, hak azasi, komunis, sosialis, materialis dll. Dari sini juga semakin dimaknai bahwa urusan umat menjadi terang, jelas, tegas dan valid tanpa bahasa-bahasa diplomasi yang penuh dengan rekayasa, sehingga sampai dianalogikan sebagai bahasa pembohongan.

Tanpa kebijaksanaan yang tegas dalam menyelesaikan masalah umat Islam, karena bayangan hantu demokrasi dan hak azasi, sehingga masalah menjadi rumit dan berlarut-larut sebagaimana tersebut diatas, pada satu sisi akan menimbulkan keributan didalam masyarakat, pendangkalan aqidah dan penularan firus-firus asing ( barat ), pada sisi yang lain akan memicu semakin menjamurnya gerakan sempalan didalam masayarakat, karena berdalih hak azasi dan demokrasi, apalagi dibeking dan dibela oleh kuasa-kuasa syetan yang sengaja menciptakan situasi seperti itu untuk menimbulkan kekacauan didalam masyarakat ( umat Islam khususnya ), dan menjadikan suatu Negara menajdi tidak stabil. Dalam tabloid al-Islam, mantan Kasad Jendral TNI (purn). Ryamizard Riacudu membeberkan bahwa hampir 3000an agen asing yang menyusup ke Indonesia untuk menghancurkan bangsa ini. Konon, bila menelusuri gerakan sempalan dimanapun berada, gerakan-gerakan itu tidak sepi dari kepentingan dari golongan atau kelompok tertentu, yang berperan menancapkan hegemoni atau pengaruhnya, apalagi zaman yang penuh pancaroba ini, rekayasa dan konspirasi global telah menyudutkan kelompok tertentu sebagai dalang dan petualang, sementara yang menimbulkan keributan, kekacauan malah dianggap sebagai pahlawan. Tidak ketinggalan juga akan munculnya manusia penjilat, pencari muka, berlagak seperti pisau silet, berlidah cabang dll.

Semua paparan diatas hanya pembukaan, sebagai upaya membangun landasan pijak yang kokoh dan pas, untuk mengambil langkah dalam menyelesaikan masalah umat Islam umumnya dan masyarakat Indonesia khususnya, bahwa seperti apakah yang harus dilaku- kan keatas gerakan sempalan yang menodai ajaran Islam. Sementara Allah SWT menegaskan bahwa Muhammad SAW adalah rasul terakhir yang tidak ada lagi rasul sesuadahnya, yang harus mendapat sanjungan, pengagungan, penghormatan yang layak dan pembelaan yang maksimal. Bila tidak demikian, apalagi berdolak dalik dan membiarkan beliau ( Nabi SAW ) dihina dan ajarannya diinjak-injak, maka tunggulah sampai saatnya Allah menjajtuhkan keputusannya, sebagaimana tercatat dalam sejarah, bagaimana kesudahan orang-orang yang menyakiti beliau tempo dulu. Ada yang terkena penyakit aneh dan mati sebelum sampai ke kampung halamannya, ada yang disambar api dari langit, dll. Insya Allah…. ….wallahu a’lam.Bersambung

0 comments:

Post a Comment