Friday, November 29, 2013

KAYA TANPA HARTA


Kekayaan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan setiap orang, lantaran itu orang berusaha sekuat tenaga, peras keringat banting tulang, bekerja siang dan malam untuk mendapatkan kekayaan itu. Semua orang berusaha mengumpulkan harta benda berupa uang ringgit, rumah mewah, kendaraan canggih, emas intan permata dll yang semua itu merupakan kekayaan, dan menjadi daya tarik bagi manusia. Singkatnya kekayaan berupa harta benda tidak didapat dengan mudah tetapi dengan susah payah bahkan menyabung nyawa. Lalu apabila ada orang yang mendapatkan semua itu dengan tanpa bersusah payah tentu sangat ajaib. Nah demikianlah Nabi saw dalam sabdanya memberikan tunjuk ajar kepada kita berupa kekayaan tanpa harta benda itu. Diantara sabda itu antara lain yaitu “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikan ia kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara dan menang tanpa pembela”. (al-Hadits ; kitab Nasha’ihul Ibaad : 64 ).

Yang pertama ; Orang yang keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat maka Allah akan menjadikannya kaya tanpa harta.

Sungguh parah keadaaan orang yang selalu bergelimang dalam kemaksiatan, entah dalam bentuk dan jenis apapun kemaksiatan yang dilakukan, semua akan mengarah pada keburukan, kemelaratan dan kesengsaraan, kalau bukan di dunia maka di akhirat dan bisa saja sengsara di dunia dan sengsara di akhirat. Coba kita perhatikan bagaimana orang-orang yang selalu bergelimang dalam kemaksiatan, misalnya kita berada di lingkungan yang sudah dilabelkan sebagai maksiat. Selama berada di tempat itu kita merasa ada keterasingan, ketika kita meihat tidak ada nilai-nilai kebajikan yang terpancar disana, walaupun di tempat itu dibangun dengan lanskap yang menarik, tetapi tempat itu bagaikan dihuni oleh orang-orang mati. Tidak ada bahasa-bahasa kerohanian misalnya salam “Assalamu ‘alaikum”, yang ada hanya salam ala barat atau salam ala Indonesia “Selamat pagi”. Dua ucapan salam dalam bahasa yang berbeda ini saja telah menun-jukkan nuansa yang berbeda, walaupun sama substansinya yaitu ucapan “sapaan” kepada siapa saja yang ditemui, tetapi antara “Assalamu alaikum” dengan selamat pagi punya nilai rasa yang berbeda. Perbandingan nilai rasa dari dua ucapan salam yang berbeda diatas bisa dipaparkan lebih lanjut dengan mengambil lokasi maksiat misalnya tempat penampungan WTS, bar atau diskotik. Pada lingkungan sebagaimana tersebut ini tentu nilai-nilai luhur dalam ukuran terkecil yaitu tutur kata sapa-menyapa antara dua kalimat diatas yaitu “Selamat pagi dan Assalamu alaikum” pasti berbeda. Orang tidak mungkin datang ke tempat itu dengan ucapan salam “Assalamu alaikum”, karena lingkungan tidak mendukung. Berbeda bila orang datang ke rumah kaum muslimin, ke madrasah, pesantren, Masjid dll tentu orang lebih mudah mengucapkan “Assalamu alaikum”. Mengapa demikian ?... Ya..tidak lain karena lingkungan disekitarnya mendukung. Kalaupun di tempat lokalisasi WTS, bar dll orang mengucapkan salam “Assalamu alaikum” itu kalau diteliti bisa saja hanya untuk memperolok-olok, dari laki-laki hidung belang, bapak-bapak ayam dll, bukan sebagai sebuah bahasa ketulusan dan sadar kehambaan. Nah dalam hal kecil yaitu ucapan saja sudah berpengaruh pada maqam manakah ucapan itu dituju. Ini merupakan bayangan bagi kita sekalian bahwa maksiat akan menjauhkan kita pada nilai-nilai kebajikan.

Kondisi kemaksiatan sebagaimana digambarkan diatas yang bakal akan membawa manusia pada kehinaan dan kesengsaraan, adalah sangat jelas dimana Allah berfirman dalam QS. Thaha : 124 -126 bahwa “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Allah maka bagi-nya kehidupan yang sempit dan kelak akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan buta”. Dengan keadaannya yang buta maka pada ayat selanjutnya dia bertanya kepada para malaikat “Megapa aku dibangkitkan dalam keadaan buta”?. Para malaikat menjawab demikian itu karena kamu selama di dunia mendustakan ayat-ayat Allah”. Ayat ini sangat jelas bahwa kemaksiatan akan membawa pada kesempitan hidup dunia maupun akhirat. Nah seperti apakah kesempitan itu ?. Apa yang kita paparkan diatas sudah menunjukkan bahwa kesempitan itu bisa berupa krisis nilai, bisa berupa jiwa yang mati dan bisa saja berupa penyakitan yang akan menggerogoti. Amat jelas bahwa penyimpangan seksual menyebabkan penyakit-penyakit baru akan bermunculan, narkoba dan pemabuk lainnya akan merusak usia dan masa depan. Semua ini tidak lain dari bentuk-bentuk kesempitan yang terjadi karena kemaksiatan itu. Nah ketika bergelimang maksiat sebagaimana paparan diatas, tiba-tiba saja orang tersebut lalu ingin kembali kepada Allah, bertobat untuk tidak melakukan hal tersebut dan dia kemudian menjadi orang yang taat, maka Nabi saw dalam sabdanya menyebutkan bahwa orang tersebut adalah orang yang kaya tanpa harta. Hal ini bisa dimaklumi bahwa ketika dia bergelimang maksiat pada dasarnya dia telah memilih hidupnya sebagai orang yang melarat, sengsara, hina dina. Sebab akhir dari semua itu adalah kehinaan dalam neraka. Tetapi apabila dia kembali ke jalan kebenaran dan taat, justru dia telah dibalikkan oleh Allah sebagai orang yang kaya, yang kekayaannya tidak bisa dilihat dalam bentuk harta benda nyata, tetapi harta benda yang masih disimpan oleh Allah swt. Dari sinilah maka disebutkan betapa Allah memuliakan orang-orang yang bertobat kembali kepada-Nya dengan surga, sebagaimana tercantum dalam QS. at-Taubah : 111-112. Kekayaan yang tidak kelihatan ini berbeda dengan kaum materialis yang hanya mengukur kekayaan dari harta benda nyata, tentu tidak demikian dengan orang beriman, bahwa andaikan Allah menjatuhkan kekayaan itu secara langsung di dunia niscaya tidak ada wadah manapun yang bisa menampungnya, karenanya masih ditangguhkan oleh Allah. Bandingkan saja dengan shalat sunnat shubuh yang lebih baik dari dunia seisinya, bagaimana lagi dengan yang lain ? Hanya iman yang memaknai semua ini.

Yang kedua dan ketiga ; Orang yang keluar dari maksiat menuju ketaatan maka Allah akan menjadikan dia kuat tanpa tentara dan menang tanpa pembela.

Tidak dinafikan bahwa orang yang telah lama bercokol dalam kemaksiatan maka sudah pasti dia telah berteman, berlindung dengan selain Allah, apakah iblis atau syaitan dan orang-orang yang sama-sama bermaksiat dengannya. Demikian itu adalah kecendrungan yang terjadi antara orang-orang yang beriman saling tolong menolong antara sesama, dan orang-orang ahli maksiat, kafirin dan musyrikin akan bertolong menolong antara sesama mereka. Walaupun pendukung dari golongan maksiat itu banyak dan kuat, pada hakikatnya tidak sama dengan perlindungan dan kekuatan Allah swt. Nah…orang yang bergelimang maksiat yang selama ini merasa kuat dengan orang-orang disekitarnya dari gembong-gembong maksiat, kini telah beralih arah, bertobat kepada Allah berarti dia telah menjadikan Allah sebagai pelindungnya. Berlindung kepada Allah adalah perlin-dungan yang paling kuat kokoh yang tidak ada tandingannya, dan itulah kenyataan yang dijamin oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tulus ikhlas kepada-Nya. Selain dia menjadi kuat tanpa tentara, orang tersebut juga menjadi orang yang menang tanpa pembela. Dua keadaan ini niscaya dijamin oleh Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang berwali (berlindung) hanya kepada-Nya. Kisah penggalian parit untuk membakar pengikut seorang pemuda shaleh pada zaman bani Israil kiranya menyadarkan kita bahwa orang yang kembali kepada Allah dengan tulus ikhlas senantiasa dibela oleh Allah, dia akan kuat walaupun tanpa ada tentara dan akan menang walaupun tanpa ada pembela, karena yang akan menjadi tentara dan pembelanya adalah Allah swt. Masih banyak lagi kisah yang sama yang tercantum dalam al-Qur’an. Demikian…. Wallahu a’lam. Oleh : Abd. Razak Muhidin

0 comments:

Post a Comment