Friday, December 6, 2013

TIGA INDIKASI KEBENARAN IMAN

Abd. Razak Muhidin


Kebenaran adalah anutan universal yang diakui oleh semua manusia, entah dari latar belakang apa saja, status sosial dll sesuatu yang berwujud benar pasti diterima akan kebenaran itu. Kecuali mereka-mereka yang membohongi diri maka kebenaran pun disembunyikan, dan mereka tetap berada dalam kepalsuan, kebohongan. Batasan seperti ini sangat jelas bisa diadopsi dalam segala predikat yang disandang atau segala hal yang kita punyai. Misalnya ijazah yang kita punyai apakah benar-benar ijazah kita atau ijazah yang bohong-bohongan. Ijazah yang benar-benar milik kita tentu diperoleh dengan sungguh-sungguh, susah payah, kerja keras dan hasil dari itu semua telah ada dalam ijazah. Sedangkan ijazah palsu berbeda cara mendapatkannya yaitu dengan sogok menyogok, dengan nilai yang tinggi semampai padahal nihil semata. Demikian halnya dengan iman, apakah iman kita adalah iman yang sebenar-benarnya atau iman kita adalah iman yang palsu, iman yang bohong belaka.

Untuk mendeteksi kebenaran iman ini baik disimak hadist berikut ini berupa dialog Nabi saw dengan para sahabatnya. Ketika bertemu dengan para sahabat Nabi saw bertanya “Bagaimanakah keadaan anda semua di pagi ini”?. Para sahabat menjawab “Di pagi ini kami tetap beriman kepada Allah swt”. Nabi bertanya lagi “Apakah tanda-tanda keimanan anda semua?. Kami bersabar atas musibah, bersyukur atas kelapangan penghidupan, dan ridha menerima qadha”. Mendengar jawaban itu Nabi saw bersabda, “Anda semua benar-benar sebagai orang-orang beriman yang benar, demi Allah Tuhan pemilik ka’bah”. ( al-Hadits ; kitab “Nasha’ihul ‘Ibaad” : 65). Dialog Nabi saw dalam hadits ini merupakan sebuah persaksian dari para sahabat kepada Nabi saw dan persaksian mereka diakui oleh Nabi sebagai kebenaran iman dari orang yang benar-benar beriman. Sangat jelas tercantum bahwa orang yang mengaku beriman hendaklah ada buktinya. Demikian Nabi saw lebih jauh mendeteksi kebenaran iman dari para sahabat yang telah mengaku beriman itu. Setelah dideteksi ternyata jawaban para sahabat itu benar menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang benar-benar beriman. Ketiga hal yang menunjukkan kebenaran iman ini perlu diusul dan diperiksa untuk memperkuat keyakinan kita sekaligus mendorong kita berpegang pada ketiga hal tersebut sehingga kita menjadi hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman.

Yang pertama ; Sabar atas musibah.

Dalam kajian para ahli tasauf bahwa bersabar itu ada tiga macam, yaitu bersabar dalam ketaatan, bersabar dari kemaksiatan dan bersabar dalam musibah. Tiga tingkatan kesabaran ini hendaklah ada pada setiap orang yang mengaku beriman. Dalam melaksanakan taat hendaklah bersabar sebab kalau tanpa ada kesabaran bisa saja orang tidak lagi berada dalam ketaatan. Misalnya seseoorang yang teguh menegakkan shalat atau perintah yang lainnya. Nah dalam melaksanakan semua ketaatan ini orang bisa salah persepsi bahwa dengan ketaatan itu hidupnya menjadi lapang, jauh dari musibah dan bencana. Ternyata justru dalam ketaatan itu banyak kesempitan dalam hidupnya, ditimpah musibah yang mendukacitakan dll. Bila dalam kondisi seperti ini seseorang bisa bersabar berarti dia telah membuktikan keimanannya sebagai orang yang benar-benar beriman.

Selain kesabaran dalam bentuk materi (wujud) masalah yang terjadi sebagaimana tersebut diatas, Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawiy dalam Nahsa’ihul Ibaad menukilkan sabar dalam tingkatan pelaksanaannya. Diantaranya yaitu sabar dalam hal tidak mengadukan beban penderitaan kehidupannya. Pada tingkatan yang kedua sabar dalam arti ridha menerima takdir. Dan tingkatan ketiga yaitu sabar dalam arti senang menerima cobaan. Pada tingkatan yang pertama biasanya terjadi pada para tabii’in yaitu orang-orang dibawah dari para Nabi dan para sahabat yang shaleh. Sedangkan tingkatan sabar yang kedua yaitu orang yang ridha menerima takdir itu ada pada orang-orang ahli zuhud yaitu orang-orang yang menjauhi diri dari kesenangan dunia untuk beribadah kepada Allah. Dan tingkatan yang ketiga yaitu sabar dalam arti senang menerima cobaan itu terjadi pada orang-orang shiddiqin, dari para ambiyaa’.

Yang kedua ; Bersyukur atas kelapangan hidup.

Bersyukur atas kelapangan hidup adalah salah satu dari indikator kebenaran iman. Syukur dalam definisinya adalah memanfaatkan segala anugerah Allah dengan sebaik-baiknya. Orang yang memanfaatkan harta bendanya untuk kepentingan diri, keluarga dan untuk kepentingan agama berarti dia telah bersyukur. Bukanlah dia sebagai orang yang bersyukur apabila menyalahi semua yang diberikan oleh Allah kepadanya. Misalnya hartanya dipergunakan untuk berbuat maksiat, untuk suap menyuap, sogok menyogok, berbuat zhalim dll. Bahkan syukur dalam definisi diatas bisa terjadi dalam batas-batas minimal sekalipun. Seseorang yang tidak punya mobil, dia bisa bersyukur karena punya motor, dibawah dari itu yang punya sepeda bisa bersyukur karena masih banyak yang jalan kaki, yang jalan kaki masih bisa bersyukur, karena masih banyak yang terbaring sakit dan seterusnya. Jadi bersyukur bisa terjadi dalam setiap keadaan yang dialami. Bila seseorang mampu bersyukur dalam setiap keadaannya, berarti dia telah menempati posisinya sebagai orang yang benar-benar beriman.

Yang ketiga ; Ridha dalam menerima qadha’.

Indikasi kebenaran iman yang berikut adalah orang yang ridha menerima qadha yaitu rela menerima ketentuan Allah swt kepada dirinya. Sikap rela atau ridha terhadap qadha’ yaitu ketentuan Allah atas dirinya tidak berarti bahwa seseorang menjadi pasif menunggu takdir yang datang, tetapi dia justru menjadi orang yang aktif, selalu berikhtiar atau berusaha sekuat tenaga. Setelah berikhtiar atau berusaha sekuat tenaga, lalu pada akhirnya semua usaha itu gagal atau tidak berhasil, dia tidak berputus asa, bersungut atau menggerutu, tetapi dia rela atas ketentuan demikkian bahwa semua itu sudah menjadi takdir Allah sembari mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun”. Sikap seperti ini adalah sikap yang senantiasa bersangka baik kepada Allah dalam segala hal, bahkan tidak pernah terlintas dalam hatinya kalau dulu saya tidak melakukan usaha seperti ini, pasti saya tidak akan sialan seperti sekarang ini. Atau terlintas dalam hatinya lebih baik dulu saya gunakan saja anggaran yang ada untuk kegiatan yang lain, pasti saya tidak sial seperti ini. Semua goresan hati seperti ini tidaklah terjadi pada orang yang ridha teerhadap qadha Allah, karena bila dikaji semua itu hanyalah ungkapan rasa yang tidak puas terhadap ketentuan Allah swt.

Suatu ketika para sahabat ribut-ribut berbicara tentang qadha’ dan qadhar Allah kepada manusia. Ada yang berbicara begini dan begitu sampai begitu jauhnya mereka mencampuri urusan yang menjadi rahasia Allah swt. Lalu pembicaraan mereka didengar oleh Nabi, maka Beliau lalu menegur para sahabat “Apakah ini tujuan aku diutus?... Cukuplah bagi kalian bahwa apa kebajikan yang ditentukan oleh Allah akan terjadi atas kalian maka itu pasti terjadi, dan apa keburukan yang ditentukan keatas kalian bahwa itu tidak akan terjadi, maka tidak akan terjadi”. Hadits Nabi ini kiranya semakin memberikan keyakinan kepada kita bahwa terhadap qadha dan qadar Allah kita hendaklah menjadi orang yang ridha, dan apabila sikap ridha itu telah ada, maka kita adalah orang-orang yang benar-benar beriman. Mari menggapai tiga indikasi kebenaran iman ini, mudah-mudahan kita semua menjadi hamba Allah yang beruntung. Amin…wallahu a’lam.

0 comments:

Post a Comment