Friday, January 24, 2014

TIGA PESAN JIBRIL KEPADA NABI SAW



Ada sebuah pesan dari malaikat Jibril as kepada Nabi saw berikut ini untuk kita simak dan kita renungi bersama, apalagi pesan ini dari makhluk yang paling utama di langit dan makhluk yang paling utama di bumi. Pesan tersebut adalah sebagai berikut “Wahai Muhammad, hiduplah menurut apa yang Anda mau, tapi ingat, Anda pasti akan mati. Cintailah orang yang Anda kehendaki, tapi ingat Anda akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sekehendak Anda, tetapi ingat sesungguhnya Anda akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan Anda”.

Bila disimak isi kandungan hadits diatas ada sesuatu yang menjadi pertanyaan kita semua, bahwa apa maksud dari pesan tersebut, sedangkan Nabi saw adalah orang yang paling baik dan benar dalam tutur kata dan perbuatan ? Apakah Nabi selama ini lalai dan cuai dalam kehidupan, lupa daratan, dan melanggar perintah dan larangan Allah sehingga mesti diperingati seperti itu ?

Yang jelas Nabi adalah panutan bagi manusia sehingga apa yang disampaikan oleh Jibril as itu tidak lain adalah untuk manusia terutama umat Islam khususnya agar mengambil pelajaran dari pesan tersebut, bahwa demi hidup yang tidak menyimpang dari tiga pesan tersebut hendaklah mengikuti contoh teladan dari Nabi saw karena Nabi dalam sirah hidupnya bersesuaian dengan pesan Jibril tersebut. Pesan ini dapat kita jabarkan secara sederhana dibawah ini.

Yang pertama ; Wahai Muhammad… hiduplah menurut apa yang Anda mau, tapi ingat Anda akan mati. Hadits ini sangat jelas bahwa di dunia ini kita ditakdirkan untuk hidup lalu disediakan segala fasilitas diatas dunia ini untuk kehidupan manusia itu sendiri. Semua fasilitas itu Allah sediakan bagi manusia, baik berupa harta benda, pangkat dan jabatan, juga pengaruh dan kemasyhuran. Namun demikian apabila semua fasilitas yang disediakan oleh Allah itu kalau tidak dipandu dengan aturan permainan, batas-batas kebolehan dan pantang larang, tentu rusak binasalah kehidupan ini. Maka Allah swt mendatangkan panduan-Nya berupa wahyu, demi terciptanya kehidupan yang harmonis, aman damai bagi semua makhluk-Nya. Tetapi ada diantara manusia yang tidak mau diatur dengan aturan yang datang dari Allah apalagi aturan manusia, dia menghendaki hidup “semau gue”, hidup semau apa yang dia suka. Maka jadilah dia seorang yang berbuat sewenang-wenang dimuka bumi, walaupun orang lain dirugikan. Nah…Allah dalam hal ini tidak menghendaki cara hidup seperti ini, maka orang yang berbuat sewenang-wenang itu akan diadili dengan hukaman yang keras di akhirat nanti. Sementara orang yang berbuat baik akan mendapat balasan berupa nikmat terbesar yaitu surga. Berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya dengan kehidupan setelah mati, terutama masyarakat Barat, sehingga mereka berbuat di dunia ini sesuka mereka, tetapi orang beriman yakin bahwa ada kehidupan setelah hidup di dunia ini. Dari itulah Jibril as mengingatkan kita semua lewat Nabi saw bahwa silahkan hidup sekehendak kita, tapi ingat…kita pasti akan mati.

Yang kedua ; Cintailah orang yang Anda kehendaki tetapi ingat, engkau akan berpisah dengannya. Adalah manusiawi bahwa manusia cendrung mencintai sesuatu terutama disebutkan oleh Allah dalam QS. Ali Imran : 14 yang artinya “Diperhias bagi manusia kepada barang yang diinginkannya yaitu dari hal perempuan dan anak laki-laki, dan berpikul-pikul emas dan perak, dan kuda kendaraan yang diasuh, dan binatang ternak dan sawah ladang. Yang demikian itulah perhiasan hidup di dunia, namun disisi Allah adalah sebaik-baik tempat kembali”. Semua yang telah Allah ciptakan diperuntukkan bagi manusia dan manusia memang cenderung mendapatkan apa yang ia inginkan terutama yang disebutkan oleh Allah dalam firman diatas. Mencintai semua ini boleh tetapi yang dilarang adalah cinta buta. Apa itu cinta buta ?. Yah, tidak obahya dengan orang buta yang diberikan sesuatu dia tidak bisa memeriksa benda itu menurut yang ia inginkan yang penting ada ditanagnnya. Apakah benda itu warnanya merah, padahal warna merah itu dia tidak suka, tetapi lantaran buta maka warna merahpun diambil saja. Begitulah perumpamaan orang yang cinta buta pada harta benda, emas permata, uang dollar, rumah mewah, kendaraan pilihan, semmua ini mau didapatkannya walaupun dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah.

Saking mencintai semua itu dia lalu bekerja keras, peras keringat, banting tulang hanya demi cita-citanya mendapatkan semua yang tersebut diatas. Bahkan Nabi menyebut dalam sabdanya bahwa andaikan anak Adam itu diberi harta benda memenuhi sebuah jurang, dia akan mencari lagi untuk menimbuni jurang yang satu lagi. Sah-sah saja dan itu adalah bagian dari ibadah, tetapi yang dilarang apabila mencintai semua itu secara berlebih-lebihan, sehingga melanggar batas-batas ketentuan Allah swt. Nah ukuran berlebih-lebihan dalam mencintai sesuatu itu seperti apa ? Apabila dalam mencintai sesuatu itu kita melanggar ketentuan Allah itulah jawabannya. Kerja adalah dalam rangka mendapatkan sesuatu yang kita cintai, tetapi ketika bekerja itu kita harus curang, menipu, melanggar larangan Allah bahkan tidak memberikan waktu untuk ibadah (shalat), maka kita telah terindikasi berlebih-lebihan mencintai sesuatu. Demikian juga ketika kita mengupulkan harta benda dll, lalu Allah menghendaki untuk dikeluarkan atau diberikan kepada orang yang tak punya, kita malah enggan memberikan. Bila sudah begini berarti kita telah berlebih-lebihan dalam mencintai sesuatu. Lalu apakah semua yang kita lebih-lebihkan itu bisa menolong kita di akhirat, padahal kita akan berpisah dengannya ? Allah mengingatkan kita bahwa semua itu bisa menjadi bara api yang akan membakar kita.

Yang ketiga ; Berbuatlah sekehendak anda tetapi ingat… sesungguhnya Anda akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan Anda. Di dunia ini berhimpunlah berbagai macam perangai dan watak manusia, ada yang jujur, ada yang bohong, berpura-pura dan yang sebenar-benarnya tingkah laku. Ada kejahatan ada kebaikan ada yang shaleh dan ada yang salah. Yang shaleh akan memberikan manfaat pada sesama, segala yang terlahir dari orang-orang shaleh terasa berkesan selama hayat dikandung badan walaupun yang empunya diri telah tiada tetapi semua kebaikan itu akan dikenang. Bahkan karena rindu pada orang-orang yang berbuat kebajikan kepada kita membuat kita berhutang budi sebagaimana kata pepata “Hutang emas boleh dibayar hutang budi membawa mati”. Dan terkadang bila orang lewat dimaqam (kuburnya) masih sudi orang menziarahi, dititipkan do’a dan sebagainya. Tetapi sebaliknya dengan orang yang berbuat jahat terlalu sulit di kenang, bahkan kalau tidak dilarang agama, tentu orang akan menceritrakan kejelekannya sampai anak cucu. Bila lewat di maqamnya orang pasti bersegera lewat karena takut kalau-kalau perangainya itu dibawa syetan dan hantu. Lain halnya lagi bahwa sendainya kejahatan yang dilakukan di dunia ini kalau Allah tidak menggelar pengadilan-Nya diakhirat, tentu semuanya habis terkubur, sementara orang-orang yang merasa dirugikan selama hidup di dunia tidak mendapat pembelaan yang sewajarnya. Ada yang harta bendanya habis terbakar oleh ulah tangan-tangan nakal yang menghanguskan gudang simpanan harta bendanya. Ada yang istrinya diselingkuhi, anak gadisnya diperkosa tetapi semua itu luput dari jangkauan hukum, apalagi sengaja menyembunyikan hukum. Semua itu adalah sandiwara dunia yang sudah tentu yang menjadi korban pasti sangat terluka oleh cara seperti itu. Nah, dalam keadaan demikian andaikan Allah tidak menggelar pengadilan-Nya diakhirat, tentu orang-orang yang menjadi koban itu terluka selama-lamanya. Dari itulah Allah telah berjanji akan membela siapa saja yang tertindas di pengadilan-Nya yang tidak ada duanya. Dari itulah Jibril mengingatkan kita lewat Nabi saw kiranya kita semua tersadarkan bahwa semua yang kita lakukan ada balasannya di kemudian hari. Demikian… Wallahu a’lam.(Oleh : Abd. Razak Muhidin.)

0 comments:

Post a Comment