Friday, February 28, 2014

KALAH DI HADAPAN ALLAH

 Abd. Razak Muhidin
Dalam sebuah perhelatan (Turnamen, perlombaan, seleksi dll) pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Ada yang unggul dan ada yang tersisihkan. Kondisi ini telah menunjukkan makna apa itu kalah dan apa itu menang. Bisa dianalisa bahwa menang dalam hal ini dimaknai sebagai kesuksesan atau keberhasilan dalam suatu peristiwa terutama perlombaan dan yang semakna dengan itu. Bila diteliti, perlombaan, ujian dll yang lebih identik dengan menang dan kalah bila dibanding hal-hal yang hampir serupa. Misalnya lolos dari gempa tsunami atau dari suatu musibah tidaklah lolos seperti ini disebut sebagai menang sedangkan yang menjadi korban banjir dll disebut sebagai kalah. Tentu berbeda antara kedua makna diatas.

Begitulah lumrahnya dalam sebuah pertandingan dll yang menorehkan kalah dan menang, yang seterusnya apabila dikaitkan dengan pepatah dari orang-orang tua dahulu “Kalah jadi abu menang jadi arang”, semakin menuntut perenungan yang lebih dalam dari kita semua. Pepatah ini kemudian diartikan bahwa kalah dan menang sama-sama tidak berguna. Makna ini bila disimak dengan saksama lalu dikaitkan dengan kronologi peristiwa yang menghantarkan seseorang atau kelompok yang menang dan yang kalah dalam suatu perlombaan, bisa saja demikian bahwa keduanya menjadi tidak berguna dan sebaliknya. Coba lihatlah gelagat orang-orang yang datang mengikuti sebuah turnamen, semua mengerahkan segala tenaga, cara dan taktik untuk memperoleh kemenangan. Sah-sah saja semua yang dilakukan untuk memperoleh kemenangan tetapi mengapa menang disebut sebagai jadi arang dan yang kalah adalah abunya ?. Itu tidak lain apabila masing-masing pihak ingin menang demi kemasyhuran, mencari popularitas, agar menjadi terkenal di mata manusia.

Kehendak dan niat yang tidak tulus sebagaimana tercantum diataslah yang apabila terjadi dari awal baik dari orang yang menang atau yang kalah, itulah yang akan membuat kalah dan menang yang mereka dapat tidak obahnya dengan abu dan arang dalam pepatah diatas yang diartikan sebagai sama-sama tidak berguna. Nah bagaimana sehingga keme-nangan yang diraih dan kekalahan yang terjadi menjadi sesuatu yang berguna?. Juga tidak lain adalah niat itu. Dari awal hendaklah diniatkan bahwa perlombaan yang diikuti apabila akhirnya menjadi juara atau menang akan dipergunakan untuk kebajikan, amal sosial, kepentingan umum, insya Allah kemenangan seperti ini tiadalah sia-sia dihadapan Allah swt. Meskipun demikian niat awal seperti ini kalau tidak berhati-hati menjalankan suatu perlombaan, niscaya sia-sia juga. Misalnya berniat tuus ikhlas seperti diatas tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara-cara yang curang, bangga dll. Kondisi seperti ini selalu ada pada orang-orang yang berlomba (bertanding). Bahkan bukan hanya terjadi pada perlombaan yang sifatnya keduniawian malah dalam perlombaan yang identik dengan agama pun bisa terjadi. Lihat saja orang-orang yang berlomba dalam mushabaqah tilawatil qur’an. Coba tanyakan pada yang kalah “Macam mana mushabaqah nya, dapat juara tidak”?. Yang kalah justru menjawab dengan wajah yang murung “Aduh saya tak dapat”. Bahkan ada yang berdalih ini itu, menuding kecurangan pada peserta, dewan yuri, permainan official dll, semuanya menjadi tidak berguna.

Sebenarnya tidak seharusnya demikian, bahwa kalau membaca qur’an itu adalah salah satu amal yang baik di sisi Allah, maka pahala yang datang dari Allah itu lebih utama dari pada hadiah yang disediakan oleh penyelenggara. Maka pahala d isisi Allah lebih memotivasi kedua belah pihak bahwa kalah dan menang tidak sia-sia disisi Allah, dan segala resistensi yang terjadi dalam pelaksanaan menjadi sepi, semua telah mengetahui posisinya masing-masing dihadapan Allah. Yang jujur ada tempatnya di sisi Allah dan yang curang juga ada tempatnya. Barangkali ada baiknya kita simak sebuah perilaku perlombaan dari seorang hamba Allah berikut ini, khususnya perlombaan mushabaqah tilawatil qur’an di daerah yang mayoritas non Islam. Di daerah yang mayoritas non Islam ini susah mendapatkan orang untuk menjadi peserta. Maka pemandangan yang terhidang adalah suasana sepi, tidak menggairahkan apabila ada mushabaqah atau kegiatan agama yang lainnya. Dalam kondisi seperti itu, ada seorang peserta yang hatinya terpanggil untuk menjadi paserta, lalu dia mendekati panitia untuk mendaftar dan tiba gilirannya dia tampil untuk membaca hingga selesailah gilirannya.

Ternyata peserta ini dikenali banyak orang sebagai jago silat yang selalu mewakili provinsi diajang nasional. Namanya juga jago silat maka sering dipanggil Bruce Lee oleh kawan dan lawan karena apabila ada keributan dikalangan anak-anak muda yang mau adu jotos kalau dia datang pasti aman. Dia tidak punya keahlian tilawah alqur’an dalam hal lagu yang indah, tetapi soal baca saja dengan tajwid insya Allah lancar dan itulah yang menjadi modalnya untuk tampil. Dengan bermodal seperti ini maka dia tidak punya target apa-apa selain untuk syiar dan dakwah Islamiyah. Setelah selesai, orang-orang disekitar dari kawan-kawan dan keluarganya lalu bertanya “Kamu tidak punya keahlian tilawah kok mau tampil, apaan kamu ini”?. Dengan santai dia menjawab “Apakah kamu tidak malu di daerah yang mayoritas orang non Islam lalu acara kita menjadi sepi peserta”? Lebih baik kita tampil untuk meramaikan suasana, sekaligus syiar dan dakwah bahwa kita umat Islam tidak buta alqur’an ? Biarlah juara menjadi milik orang tidak masalah yang penting syiar dan dakwah”. Demikian jawabannya. Ternyata dengan jawabannya itu telah memotivasi kawan-kawannya yang lain yang selalu terlibat perkelahian, untuk tampil pada mushabaqah tahu-tahun berikutnya, mereka menyebar mendaftar untuk mewakili kelurahan atau kecamatan yang belum ada pasertanya. Maka tahun-tahun berikutnya mushabaqah manjadi ramai tidak sepi peserta.

Nah kembali pada pokok masalah bahwa dimanapun perlombaan semua peserta yang ikut tentu menginginkan kemenangan walaupun dengan niat yang tidak tulus. Bahkan dalam segala kesuksesan bisa disebut sebagai yang menang sedangkan yang tidak sukses diang-gap sebagai yang gagal atau kalah. Dalam eporia kemenangan manusia terkadang lupa bahwa kemenangan yang sesungguhnya adalah kemenangan yang disana para malaikat manjadi saksinya dan Allah menjadi hakimnya, yang sudah tentu itulah kemenagan yang sejati yang tidk bisa diganggu gugat oleh apa dan siapapun. Tetapi manusia sebagaimana tersebut diatas bahwa eporia kemenangan itu bukan hanya ditunjukkan di dunia tetapi dihadapan Allahpun terkadang manusia masih bersikap seperti itu. Manusia terkadang berpikir segala amal yang telah ia laukan bakal menjadi hujjahnya di hadapan Allah sebagai sebuah kesuksesan (kemenangan), padahal itu semua tiada berarti kalau Allah juga mengemukakan hujjah-Nya.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa seorang ahli ibadah zaman bani Israil yang beribadah selama 80an tahun, maka dia berbangga dengan itu dan manolak kalau Allah mengatakan dia masuk ke dalam surga karena rahmat Allah. Lalu menyuruh para malaikat menghitung ibadahnya dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya ternyata, setelah dihitung ibadahnya selama ini baru cukup membayar sebelah matanya belum lagi yang lain. Maka Allah berfirman kepada para malaikat, kalau begitu masukkan saja hamba-KU itu ke neraka. Mendengar itu si ahli ibadah berbalik mengatakan “Jangan ya Allah…tetapi masukkanlah aku ke dalam surga karena rahmat-MU”. Kisah ini menjadi ingatan kita semua bahwa apapun amalan yang kita lakukan jangan berbangga tetapi hendaklah terus melakukan kebajikan dengan mengharapkan rahmat dari Allah, sebab kalau berhujjah dihadapan Allah justru kitalah yang kalah. Yang hartawan akan kalah dengan hartawan yang Allah sediakan, yang dermawan demikian juga, yang jadi pejuang, yang jadi alim, yang jadi pemimpin dll semuanya akan kalah bila berhujjah dengan Allah swt. Inilah yang menjadi inspirasi kita menorehkan judul sebagai mana tercantum diatas. Wallahu a’lam.

0 comments:

Post a Comment