Friday, May 2, 2014

POLITIK PRIMORDIAL ADALAH DOSA


Abd. Razak Muhidin

Insya Allah… lima hari ke depan kita akan bersama-sama menunaikan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu menyalurkan aspirasi politik kita melalui Pemilihan Umum (PEMILU). Bila melihat PEMILU sebagai sarana pelimpahan mandat rakyat kepada siapa saja pemimpin yang terpilih, maka PEMILU merupakan sesuatu yang prinsipil dalam tataran kemanusiaan dan kepentingan agama. Memilih pemimpin dalam Islam adalah wajib bagi ummat Islam. Lantaran pentingnya pemimpin bagi ummat Islam, maka Nabi saw dalam sabdanya menyebut bahwa kewajiban itu telah ada dalam tiga orang Islam. “Tidak halal bagi tiga orang yang bepergian melainkan diangkatnya seorang diantaranya menjadi pemimpin,” demikian diantara hadits Nabi saw. Konon dalam tiga orang saja sudah dituntut adanya kepemimpinan, apalagi kalau sudah lebih dari pada itu. Maka dalam rumah tangga ada pemimpin, dalam RT, RW dan seterusnya tentu lebih tertuntut adanya pemimpin. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa 100 tahun berada dalam kepemimpinan zhalim lebih baik dari pada satu hari saja tidak ada pemimpin. Al-Mawardi dalam “Al-ahkamus sulthaniyah wal wilayatusy Syariyyah” menyebut bahwa pemimpin memegang perannya sebagai pengganti kenabian. Semua yang datang dari Nabi maupun para ulama ini akan mengerucut pada substansi masalah, bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang teramat penting.

Peran seorang pemimpin sebagai pengganti kenabian bisa dimaknai bahwa pada pemimpin itu terletak keselarasan urusan manusia dan urusan Allah swt. Urusan manusia dalam hal ini adalah bagaimana seorang pemimpin meletakkan dasar-dasar keadilan dan penegakan hukum, memenej urusan ekonomi, dan kesejahteraan sosial, kestabilan politik, pelestarian alam dan perlindungan satwa. Adapun urusan yang berhubungan dengan Allah bagi seorang pemimpin adalah mengawal penerapan hukum-hukum Allah (hukum syariat), mengorganisir dakwah dan jihad, serta amar makruf nahi mungkar. Untuk kepentingan seperti ini, maka ummat Islam hendaklah berhati-hati memilih pemimpin dan lebih selektif membuat penilaian yang tepat pada sosok seorang pemimpin yang bisa membawa masyarakat kearah tujuan politik Islam seperti yang kita paparkan ini. Bila tersalah langkah dan salah pilih maka akan berakibat fatal dalam proses bina’ul ummah, bahkan akan membawa pada dosa sedangkan dosa itu sendiri akan bermuara pada keburukan di dunia maupun diakhirat. Keburukan di dunia akibat salah memilih pemimpin bisa saja terjadi kezhaliman di mana-mana, keadilan susah didapatkan, penipuan, kecurangan, korupsi, meningkatnya grafik kriminalitas dll. Sementara keburukan diakhirat akibat salah memilih pemimpin bahwa bisa saja kita termasuk yang ikut andil dengan kezhaliman pemimpin itu, ikut andil dalam kecurangan pemimpin itu dll. Dalam bahasan Islam ikut andil disebut “subhat” dimana orang yang bersubhat dengan sebuah dosa maka dosalah ia. Naudzubillah.

MIHRAB kita pada kesempatan ini sengaja memaparkan permasalahan ini bahwa bisa saja diantara kita yang masih latah memilih pemimpin, tidak punya pegangan dan tidak punya prinsip hidup, tidak paham tentang ajaran agama, apalagi masih diliputi oleh pamrih duniawi. Pandangan politik seperti ini tidak obahnya dengan judul diatas bahwa Politik Primordial adalah Dosa. Politik primordial adalah politik yang dilandasi oleh semangat kesukuan, kedaerahan, kekeluargaan, dan kepamrihan pada keuntungan duniawi. Orang yang telah dihinggapi sindrom politik primordial selalu menonjolkan semangat kedaerahan, semangat kesukuan, kekeluargaan, dan segala kepamrihan untuk mendapatkan keuntungan duniawi baik berupa uang dan segala yang bernilai komersil, juga bisa berupa pangkat dan jabatan atau posisi tertentu yang menjadi targetnya. Demi tujuan tersebut maka digerakkannya semangat kesukuan atau kedaerahan “Lebih baik pilih kita punya orang dari pada orang lain. Atau dia itu dari suku kita maka lebih baik kita pilih dia jangan pilih orang dari suku lain. Atau kalau kita pilih dia maka dia akan memberikan kita duit sekian-sekian, dll”.

Pandangan politik yang tendensius pada kesukuan, kedaerahan seperti ini dan kepamrihan lainnya sangat dicegah oleh Islam. Rasulullah saw dalam sebuah sabdanya mengatakan bahwa “Barangsiapa yang meniupkan semangat kesukuan (ta’sub ahsabiyah) maka apabila dia mati maka matinya dalam keadaan jahiliyah.”. Bahkan hal-hal yang mengarah pada semangat kesukuan juga dicegah sejak awal. Misalnya ada yang berkata, “Kita harus membesarkan suku kita supaya suku kita menjadi terhormat” dan kata-kata yang semakna dengan itu sudah termasuk dalam semangat ashabiyah yang dicegah oleh Islam. Apabila Islam membiarkan semangat seperti ini terus terjadi, maka iklim perbedaan itu sudah dimulai yang seterusnya akan menimbulkan gesekan dalam masyarakat. Yang satu berusaha menonjolkan kedaerahan dan kesukuannya, yang lain juga berusaha menonjolkan sukunya, akhirnya lambat laun akan terjadi chaos dalam masyarakat lantaran masing-masing telah dibangun semangat perbedaan seperti itu. Maka Islam menghapus segala fahaman yang menghidupkan semangat kesukuan.

Islam justru menggalakkan semangat keislaman kepada semua orang yang berbeda latar belakang suku bangsa, bahasa, adat dan budaya yang berbeda, karena Islam telah mengikat mereka dalam satu kesatuan dengan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah Muhammadar rasuulullaah”. Islam telah menghapus berbagai perbedaan mereka dan sekarang mereka hanya terfokus untuk memperjuangkan Islam., meninggikan Islam dan membesarkan Islam. Adapun dalam urusan kepemimpinan, Islam menghendaki agar semua orang yang berbeada latar belakangnya itu hendaklah memilih pemimpin berdasarkan keimanan dan ketakwaannya. Bila iman dan takwa menjadi parameternya maka seperti apapun warna kulitnya tidak menjadi ukuran. Cantik atau jelek juga tidak menjadi ukuran, justru yang cantik dan ganteng tapi dia adalah orang yang fajir yang durhaka kepada Allah maka dia tidak layak dijadikan sebagai pemimpin. Sebaliknya yang hitam kulitnya dan jelek paras rupanya tetapi dia adalah orang beriman dan bertakwa maka layaklah dia dijadikan pemimpin. Hal ini tercantum dalam QS. 9/ at-Taubah ayat : 23 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu memilih bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin apabila mereka lebih mencintai (mengutamakan) kekafiran dari pada keimanan. Barang siapa yang memilih mereka maka mereka itu adalah orang-orang zhalim”.

Ayat diatas sangat jelas bahwa walaupun orang-orang dekat kita dari bapak-bapak kita dan keluarga kita tidak layak dijadikan atau dilarang dipilih menjadi pemimpin apabila mereka lebih mengutamakan kekafiran dari pada keimanan. Tetapi apabila ada diantara keluarga kita yang memang keimanannya lebih baik dari pada yang lain justru boleh diangkat menjadi pemimpin. Yang salah apabila bukan keimanan yang menjadi ukuran malah selain dari itu. Misalnya sebagaimana yang menonjol saat ini siapa saja yang punya duit, asal dikasi itulah yang dipilih. Cara pemilihan dengan perantaraan duit seperti ini justru dilarang dalam Islam. Praktek seperti ini juga disebut sebagai sogok menyogok atau suap menyuap yang disebut oleh Nabi dalam sabdanya “Penyuap dan yang disuap kedua-duanya dalam neraka”. Dalam sabda yang lain Beliau mengatakan bahwa diantara orang yang tidak dipandang oleh Allah di akhirat, tidak berbicara dan tidak mensucikan mereka diakhirat adalah orang yang memilih pemimpin dengan tujuan untuk mendapatkan harta benda, uang dan jabatan. Singkat kata orang yang memilih pemimpin karena ada kepamrihan pada mata benda duniawi kelak di akhirat dia tidak dipandang oleh Allah swt. Dalam tafsirnya, Hamka menulis bahwa ketika di dunia saja apabila ada pemimpin yang tidak sudi melihat kita (membuiang muka) ketika kita datang, sudah terasa resah dan gelisahnya hati, tidak enak dalam pembawaan kita, duduk terasa seperti ada duri, berdiri seperti pincang kaki, mau menjamah makanan terasa hampa. Bisa dibandingkan bagaimana apabila kelak nanti kita tidak dipandang oleh Allah?. Semua itu akibat dari cara kita yang terpagut oleh rayuan politik primordial. Hindarilah…hindarilah…semoga selamatlah kita di dunia dan di akhirat. “SELAMAT MERAYAKAN PESTA DEMOKRASI…PEMILU 09 APRIL 2014, SEMOGA MAJU JAYA… AMIN”. Wallahu a’lam.

0 comments:

Post a Comment